Beranda > Makalah > Pendidikan Berbasis Masyarakat Dalam Perspektif Pendidikan Islam dan Pengembangan Pendidikan Berbasis Masyarakat Pada Pesantren

Pendidikan Berbasis Masyarakat Dalam Perspektif Pendidikan Islam dan Pengembangan Pendidikan Berbasis Masyarakat Pada Pesantren

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dewasa ini pertumbuhan pendidikan Islam di Indonesia sangat pesat dan berkembang dengan cepat, sangat banyak sekali model-model pendidikan Islam baik yang bersifat formal, non formal maupun informal, mulai dari pendidikan pesantren, madrasah, surau, majlis ta’lim dan lain sebagainya. Maka sebagai umat Islam sangat penting sekali mempelajari dan mengetahui seluk-beluk, sejarah dan perkembangannya mulai dari awal kemunculan hingga perkembangannya sampai sekarang. Berhubung menghadapi cepatnya perkembangan tersebut yang sudah tentu membawa perubahan, maka para pengembang pendidikan Islam, diharapkan untuk selalu tanggap terhadap segala bentuk perubahan yang terjadi, terutama dalam mengembangkan pendidikan di dalam masyarakat..
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pendidikan berbasis masyarakat dalam perspektif pendidikan Islam?
2. Bagaimana pengembangan pendidikan berbasis masyarakat pada pesantren?

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pendidikan Berbasis Masyarakat Dalam Perspektif Pendidikan Islam
Pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan dari demokratisasi pendidikan melalui perluasan pelayanan pendidikan untuk kepentingan masyarakat.pendidikan berbasis masyarakat menjadi sebuah gerakan penyadaran masyarakat untuk terus belajar sepanjang hayat dalam mengatasi tantangan kehidupan yang berubah-ubah dan semakin berat.
Secara konseptual, pendidikan berbasis masyarakat adalah model penyelenggaraan pendidikan yang bertumpu pada prinsip “dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat”. Pendidikan dari masyarakat artinya pendidikan memberikan jawaban atas kebutuhan masyarakat. Pendidikan oleh masyarakat artinya masyarakat ditempatkan sebagai subyek/pelaku pendidikan, bukan objek pendidikan. Pada konteks ini, masyarakat dituntut peran dan partisipasi aktifnya dalam setiap program pendidikan. Adapun pengertian pendidikan untuk masyarakat artinya masyarakat diikutsertakan dalam semua program yang dirancang untuk menjawab kebutuhan mereka. Secara singkat dikatakan, masyarakat perlu diberdayakan, diberi peluamg dan kebebasan untuk mendesain, merencanakan, membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa yang diperlukan secara spesifik di dalam, untuk dan oleh masyarakat sendiri. ( Winarno Surakhmad, Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah Dalam Rangka Pengembangan Pendidikan Berbasis Masyarakat, (Semarang: Kanwil Depdiknas Propinsi Jawa Tengah, 2002), Hal. 16.)
Menurut Michael W. Galbraith, pendidikan berbasis masyarakat dapat diartikan sebagai proses pendidikan di mana individu-individu atau orang dewasa lebih berkompeten menangani ketrampilan, sikap, dan konsep mereka dalam hidup di dalam dan mengontrol aspek-aspek local dari masyarakatnya melelui partisipatif demokratis. (Zubaedi, Pendidikan Berbasis Masyarakat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), Hal. 132)
Pendidikan berbasis masyarakat bekerja atas asumsi bahwa setiap masyarakat secara fitrah telah dibekali potensi untuk mengatasi masalahnya sendiri berdasarkan sumber daya yang mereka miliki serta memobilisasi aksi bersama untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi. (Zubaedi, Pendidikan Berbasis Masyarakat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), Hal. 132)
Tujuan dari pendidikan berbasis masyarakat biasanya mengarah pada isu-isu masyarakat yang khusus seperti pelatihan karir, konsumerisme, perhatian terhadap lingkungan, pendidikan dasa, budaya dan sejarah etnis, kebijakan pemerintah, pendidikan politik dan kewarganegaraan, pendidikan keagamaan, penanganan masalah kesehatan dan lain-lain. Sementara lembaga yang memberikan pendidikan kemasyrakatan bisa dari kalangan bisnis dan industri, lembaga-lembaga berbasis masyarakat, perhimpunan petani, organisasi kesehatan, organisasi pelayanan kemanusiaan, organisasi buruh, perpustakaan, museum, organisasi persaudaraan social, lembaga-lembaga keagamaan dan lain-lain.
Dari sini dapat ditarik pemahaman bahwa pendidikan dianggap berbasis masyarakat jika tanggung jawab perencanaan hingga pelaksanaan berada di tangan masyarakat. Pada dasarnya pendidikan berbasis masyarakat dirancang oleh masyarakat untuk membelajarkan mereka sendiri sehingga lebih berdaya, dalam arti memiliki kekuatan untuk membangun dirinya sendiri melalui interaksi dengan lingkungannya.
Model pendidikan berbasis masyarakat untuk konteks Indonesia kini semakin diakui keberadaannya pasca pemberlakuan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Keberadaan lembaga ini diatur pada 26 ayat 1 s/d 7. (Fasli Jalal & Dedi Supriadi, Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah, (Yogyakarta: Adi Cita, 2001), Hal. 176.)

Secara esensial, pendidikan berbasis masyarakat adalah munculnya kesadaran tentang bagaimana hubungan-hubungan social yang membangkitkan concern terhadap pembelajaran, social, politik, lingkungan, ekonomi dan faktor-faktor lain. Sementara pendidikan berbasis masyarakat sebagai program harus berlandaskan pada keyakinan dasar bahwa partisipasi aktif dari warga masyarakat adalah hal yang pokok. Untuk memenuhinya, maka partisipasi warga harus didasari kebebasan atau tanpa tekanan, kemampuan berpartisipasi dan keinginan berpartisipasi. ( Zubaedi, Pendidikan Berbasis………., Hal. 137.)

2. Pengembangan Pendidikan Berbasis Masyarakat Pada Pesantren
Pesantren yang merupakan “Bapak” dari pendidikan Islam di Indonesia, didirikan karena adanya tuntutan dari kebutuhan zaman, hal ini bisa dilihat dari perjalanan sejarah, di mana bila dirunut kembali, sesungguhnya pesantren dilahirkan atas kesadaran kewajiban dakwah Islamish, yakni menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam, sekaligus mencetak kader-kader ulama atau da’i. (Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006, Cet II), Hal. 138.)

Pesantren sendiri menurut pengertian dasarnya adalah “tempat belajar para santri”. Sedangkanpondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana yang terbuat dari bambu. Disamping itu kata “pondok” mungkin juga berasal dari bahasa Arab “Funduq” yang berarti “ Hotel atau Asrama”. (Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantern, (Jakarta: LP3ES, 1983), Hal. 18.)
Pesantren merupakan salah satu model pendidikan berbasis masyarakat. Kebanyakan pesantren berdiri atas inisiatif masyarakat muslim yang tujuan utamanya adalah untuk mendidik generasi muda agar memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan baik. Pesantren dengan cara hidupnya yang bersifat kolektif barangkali merupakan perwajahan atau cerminan dari semangat dan tradisi dan lembaga gotong royong yang umum terdapat di pedesaan. (M. Dawam Rahardjo, Pesantren dan Pembaharuan, (Jakarta: LP3ES, 1988, Cet. IV), Hal. 9.)
Pesantren dewasa ini juga mulai berkembang di lingkungan perkotaan, seperti fenomena kemunculan beberapa pesantren mahasiswa/pelajar. Di Malang misalnya, ada beberapa pesantren mahasiswa, seperti Pesantren Al-Hikam, Ulil Abshor, Firdaus, Dar al-Hijrah, Al-Ihsan dan beberapa yang lain. Kecenderungan ini menunjukkan, bahwa meskipun system pendidikan pesantren memiliki beberapa kelemahan, namun pesantren ternyata masih dianggap sebagai tempat yang paling efektif untuk mengenalkan ajaran Islam. Untuk mahasiswa perguruan tinggi umum yang kelak akan menjadi ilmuwan-ilmuwan dalam disiplin ilmu non-agama, dirasa penting memiliki bekal pengetahuan agama. Karena itu kemunculan pesantren di perkotaan juga merupakan indicator penting, bahwa lembaga pendidikan model pesantren semakin dibutuhkan dan diminati. (Khozin, Jejak-JejakPendidikan Islam di Indonesia, (Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 2006, Cet II), Hal 95-96.)
Dengan demikian, pesantren sesungguhnya terbangun dari konstruksi kemasyarakatan dan epistemology social yang menciptakan suatu transendensi atas perjalanan histories social. Karena pesantren hadir terbuka dengan semangat kesederhanaaan, kekeluargaan, dan kepedulian sosial. Konsepsi perilaku (social behavior) yang ditampilkan pesantren ini mempunyai daya rekat social yang tinggi dan sulit ditemukan pada institusi pendidikan lainnya.
Kemampuan pesantren dalam mengembangkan diri dan mengembangkan masyarakat sekitarnya, ini dikarenakan adanya potensi-potensi yang dimiliki pondok pesantren. Potensi-potensi itu meliputi tiga aspek. Pertama, pondok pesantren hidup selama 24 jam, dengan pola 24 jam tersebut, baik pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan, social kemasyarakatan, atau sebagai lembaga pengembangan potensi umat dapat diterapkan secara tuntas, optimal dan terpadu. Kedua, pondok pesantren secara umum mengakar pada masyrakat. Pondok pesantren banyak tumbuh dan berkembang umumnya di daerah pedesaan, karena memang tuntutan masyarakat yang ingin menghendaki berdirinya pondok pesantren. Ketiga, pondok pesantren dipercaya masyarakat. Kecenderungan masyarakat menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren tentu saja didasari oleh kepercayaan mereka terhadap pembinaan yang dilakukan oleh pondok pesantren yang lebih mengutamakan pendidikan agama. (Zubaedi, Pendidikan Berbasis…….. ., Hal. 146-147.)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: