Beranda > campuran > DAFTAR ISI KITAB USHUL FIKIH KARANGAN ABU ZAHROH

DAFTAR ISI KITAB USHUL FIKIH KARANGAN ABU ZAHROH

Keterangan-Keterangan Yang Terkandung Dalam Kitab Ini

3- Pendahuluan

6- pengetahuan tentang ilmu ini dan temanya serta sejarahnya.

6- pengertiannya.    8- perbedaan antara ilmu fikih dan ilmu ushul fiqih     8- tema ushul fiqih.   Perbedaan antara qoidah fiqhiyyah dan ilmu ushul.

11- perkembangan ilmu ushul.   13- imam syafii yang pertama kali mengarang ilmu ini.

13- Sebab-sebab syafii mengarang ilmu ini.   14- syiah mengatkan bahwa yang mengarang ilmu ushul fikih pertama kali adalah imam baqir dan analisa tentang ini.   16- Ilmu ahul fikih setelah imam syafii.   18-  Ilmu ushul setelah ditetapkan madzhab-madzhab fikih.

19- methode mutakallimin.   21- methode hanafi.    23.  hal hal yang pertama kali ditulis dengan methode hanafi.     24- Kitab kitab kumpulan antara dua methode.

25- bab-bab ushul fikih yang empat.

Bab-Pertama

26-Hukum Syara’

26- pengertian hukum.

28- hukum taklif dan hukum wad’i. 28-macam-macam hukum taklif:28-  wajib : pengertiannya. Pengertian menurut ulama’ jumhur dan pendapat imam hanafi.   30- macam macam wajib    -macam-macam dari segi zaman   – wajib mutlak dan wajib terikat dengan zaman.   32- wajib yang luas, wajib yang sempit.   33- pembgian wajib dari segi kemampuan orang yang melakukan , wajib mukhoiyyar dan wajib mungaiyyan.

34- Pembagian wajib dari dari segi ukuran, wajib muqoddar dan wajib selain muqoddar, dan kekhususan keduanya.  35- pembagian wajib dari segi keumuman, wajib aini dan wajib kafai, wajib kafai yang di cari dari keumuman menuju kekhususan, perkataan syafii didalamnya.  37- kalam imam syatii-  wajib kafai terhadap jamaah, dan keterangannya..      39-mandhub pengertiannya dan kedudukannya.     39-mandhub pemulai kewajiban.     40-     mandhub wajib dengan sifat menyeluruh.   42- haram: pemgertian, macam-macamnya, dan haram dari segi dzatnya.     43- haram karena sebab lainya, perbedaan keduanya dalam kenyataan dan dalam bekasnya.

45-  makruh : pengertian menurut ulama’ jumhur fikih, pengertian menurut hanafiah.

46-  mubah: pengertiannya, yang di tetapkan dalam mubah.       46- macam-macam mubah dari segi membantu matlub yang mengingkari wujud mubah.    48- dari mubah yang ada karena penisbatan kebolehan.

50- kedudukan rukhsoh.      50- rukhsoh dan azimah. Rukhsoh pekerjaan dan rukhsoh untuk meninggalkan.   51- bentuk rukhsoh yang dhoruri.   52- bentuk rukhsoh untuk meninggalkan.  54- hukum rukhsoh.

 

 

55- Hukum Wad’i.

55- sabab, macam-macam sebab.

57- urutan sebab-sebab terhadap sebab syara’ dengan mengamalkan syara’.

57- perbedaan antara illat dan sebab.   59- syarat.    59- syart sempurnanya sebab.    61- syarat-syarat syara’ dan syarat-syart yang jelas.  62- penghalang yang bertentangan dengan hukum dan yang bertentangan dengan sebab.     62- rukhsoh yang sampai terhadap pencegah.   64- sah, rusak, dan batal:    65-  perbedaan pendapat antara ulama’ jumhur dan ulama’ hanafiyah dalam aqad yang rusak.   68. pembagian aqad menurut ulama’ hanafiyah.

 

Bab- kedua

69- Hakim

70- anggapan akal tentang baik dan jelek.

70- hakim dalam fikih islam.  71- akal dapat smpai terhadap hukum menurut mu’tazilah.

72- dalil dali yang menguatkan pendapat mereka.   73-pendapat matururidi.                       74-Pendapat asy’ary.    75- tempat pengamalan akal yang di sandarkan pada nash, dan sumber syariat dari  selain nash yang sampai pada nash.

 

 

3 (1) Alqur’an

76- pengertian alqur’an, dan hikmah diturunkan berangsur-angsur.

79-  mutawatir  I’jaznya  alqur’an.    81- wujudnya I’jaz.    82- balagohnya.     83- berita dari alqur’an tentang umat-umat terdahulu.      84- berita tentang kejadian yang akan datang.

86- kebenaran-kebenaran yang ada dalam alqur’an    87-  syariat dalam al-qur’an yang membedakan dengan syariat sebelumnya     88- alqur’an dari segi dan maknanya dan mencegah menerjemahkan   89- alqur’an orang arab.   90- keterangan alqur’an yang sampai pada sunnah rosul.   92- uslub-uslub alqur’an dan keterangannya.   93- hukum yang terkandung dalam alqu’an.   93-ibadah dan kafarat.    95- hubungan tentang menjaga harta benda.    97- hukum keluarga.    Hukum uqubat.   99- hubungan antara hakim mahkum dan dasarnya.  101-Hubungan antar manusia dengan manusia dalam al-qur’an.

 

105 (2) Sunnah

105- pengertinnya.    106-hujjahnya.

Riwayat sunnah dan kedudukan mutawatir serta hukumnya.     108- hadist-hadist mashur dan khobar ahad dan hukum keduanya.    110- syarat-syarat dalam menerima hadist ahad.           111- hadist-hadist yang tidak bersambung dan hukumnya.   122- kedudukan sunnah terhadap al-qur’an, macam-macamnya dengan menisbatkan terhadap al-qur’an.      114- perilaku Rosululloh.

 

115- Cara-cara mengeluarkan hukum dari al-qur’an dan sunnah

116- pembahasan lafadz untuk memahami nash.        117- kaidah-kaidah.    118-lafadz-lafadz dari berbagai segi dan kejelasannya.     119-   mcam-macam lafadz yang jelas dan yang nampak.    121- nash.           122- mufassir.      123- mahkum.         124- lafadz-lafadz yang tidak jelas.    124- khofi.      125- dalil khofi yang bertentangan dan contohnya.      128- musykal.      131- mujmal.      133- mujmal setelah bayan.      134- mutasyabbih.               135- takwil.

 

139- Dalil-dalil

139- dalil-dalil ibarat.        140- dalil-dalil isyarat.

141- dalil-dalil nash.        143- dalil-dalil putusan.        144- kedudukn dalil-dalil.        147- dalil mafhum.       148- mafhum mukholafah.        149- perbedaan pendapat fuqoha’ tentang hukumnya.      151- macam macam mafhum mukolafah.      152- mafhum laqob.        153- mafhum wasfi dan mafhum syarat.     154- mafhum ghoyah (tujuan).       155- mafhum adad (hitungan).

156- lafadz-lafadz dari segi penckupan, khusus dan umum.     158- dalil dalil ngam.   159- keumuman alqur’an dan kekhususan hadist.     Perbedaan antar fuqoha’ tentang mendahulukan keumuman alqur’an terhadap hadist.      162- pengkhususan ngam menurut hanafiyah.        164- pengkhususan ngam pendapat lainya.    166- pertentangan khos dan ngam.

168- musyatarik : keumuman musytarik menurut imam ulama’ syafii dan bertentangan dengan pendapat ulma’ hanafi.     170- mutollaq dan muqoyyad.      171- mengambil mutollaq terhadap muqoyyad dan perbedaan pendapat antara ulama tentang itu.

174- bentuk taqlif, apa-apa yang tetap dalam mubah, dan apa-apa yang tetap terhadap mutollaq.     177- perintah dan dan dalil terhadapnya.     179- tidak menyempurnakan wajib di dalamnya.     181- larangan.      182- dalil-dalil larangan yanng merusak dan perbedaan ulma’ didalamnya.

184- Naskhu

185- pertentangan dhohirnya nash, terhadap hakikat naskhu.

185-Tempat naskhu dalam islam dan sebelumnya serta hikmahnya.  190- syarat-syarat naskhu.    191- apa-apa yang tidak diterima dalam naskhu.     192-Macam-macam naskhu.     193-Nash-nash yang masuk dalam naskhu dan hukumnya.

 

 

197 (3)  Ijma’

197- pengertiannya.      199-Kemungkinan inngaqoduhu.

201- perkataan imam syafii tentang wujudnya.      202- hujjah ijma’, kuatnya hukum dan tetapnya dalam ijma’.      205- kedudukan ijma’.      205-ijma’ sukuti dan perbedaan ulama’ tentangnya.     207- siapa saja yang menyepakati ijma’.      208-sanad ijma’.       211- menasakh ijma’.         211- tetapnya ijma’.

 

212 (4) Fatwa Shohbat

212- tempat perkataan shohabat.

214- perkataan syafii dalam kitab ar-risalah dari riwayat robi’ dan perkataan dalam kitab al-umm.    215- kesepakatan ulama’ empat tentang pengambilan perkataan shohabat.     216- perkataan syaukani dan pembatalannya.

 

218 (5) Qiyas

218- pengertin dan tempatnya dalam fikih islam.

220-Perbedaan ulama’ tentang keadaan qiyas dengan tiga jalan.      221- hujjahnya qiyas.     323-    qiyas dan ta’lil nash.      228- hujjah tentang menafikan qiyas.

227-    rukun qiyas.       228 -asal.     230- pendapat ulama’ maliki dalam membolehkan jika hukum asli tetap dengan qiyas.     232- hukum- syarat hukum yang ditetapkan dengan qiyas.

235- farngu(cabang).     237- illat.     238- syart-syarat illat.      241- kesesuaian antara hukum dan illat.        243- jalan illat.      247- macm-macam qiyas dan kedudukannya.       249- membangun qiyas untuk hukum menurut pendapat hambali dan keterangan dari ibnu taimiyah tentangnya.       253- qiyas dan nash.       254- pertentangan qiyas dengan nash.    256- pertentangan qiyas dengan khobar ahad, dan pendapat ulama’ tentangnya.       259- mengqiyaskan dengan aqibat.       261- tafsir undang undang-wadngi dengan qiyas.

 

262 (6) Istihsan

262- pengertian istihsan menurut hanafi dan maliki.

263- Pembagian istihsan menurut hanafi.       267- istihsan sunnah- astihsan ijma’- istihsan doruri.    269- pertentangan qiyas dengan istihsan menurut pendapat hanafi.

270- batalnya istihsan menurut imam syafii.     271- dalil-dalil dari imam syafii untuk membatalkan terhadap istihsan khofi.

 

273 (7) Urf

274- urf yang menggambarkan kehujahan- macam-macamnya.      275- anggapan ulama’ tentang urf.

 

277 (8) Maslahah Mursalah

277- apa yang digunakan dala penetapannya- macam-macamnya pendapat ulama’ fikih pandangan tentang maslahah.      279- pengertian maslahah mursalah dan syarat-syaratnya.        280- dasar penetapannya.     283- pertentangan-pertentangan yang diperselisihkan dalam maslahat mursalah.      285- contoh-contoh maslahah yang diungkapkan oleh imam malik.      286-maslahah tidak berhenti didepan nash yang qot’i.

 

287  (9)  Dzaroik

287- dzaroik melihat kepda harta.        288- Dalil-dalil tentang tetapnya dzaroik.         289- Macam-macam pekerjaan yang dilihat dari harta.           290- masalah-masalah yang diambil berdasarkan dzaroik.            292- Mengambil dengan dzaroik tetap disetiap madzhab.

 

295 (10) Istishab

295- pengertiannya.         296- dalil-dalil pengambilan dzaroik dan macam-macamnya.        297- apa yang disepakati oleh ulama’ dan apa yang diperselisihkan.           299- contoh yang diperselisihkan.      302- istishab bukanlah dalil fikih dalam dzatnya, apa yang menjadi landasan istishab.          303- istishab diambil untuk undang-undang bersifat uqubat.

 

305 (11) Sar’u man Qoblana(syariat sebelum kita).

305- perbedaan ulama tentang syariat sebelum kita.

 

308- Pertentangan Antara Dua Dalil

309- tidak ada pertentangan dalam ma’na nash.       310- mengamalkan dua nash.         311- jika tidak bisa mengamalkan dua nash, dan tidak mengetahui tahunnya.        312- pertentangan antara aqisah.

 

 

Bab III

315- Mahkum Fih

315- mahkum fih adalah dzatnya pekerjaan.    315- pekerjaan yang menjadi ukuran mukallaf.        Pembebanan hukum yang sulit yang memumingkan mengerjakannya.     318- bab-bab yang didalamnya pembebanan taklif yang berat dan tidak mungkin mengerjakan pekerjaan itu.

320- pembebanan tanpa melihat kemampun seseorang.       321- taklif muallaq.        324- inabah dalam taklif- kewajiban terhadap allah dan kewajiban seorang hamba.

Bab IV

327 Mahkum alaih

32-Mahkum alaih adalah orang yang dibebani hukum, dasar pembebann adalah akal.      328- manusia walaupun tidak berakal tetp mempunyai kewajiban.       329- kemampuan: kemampuan yang wajib.     330- ahliyah junun.      331- ahliyah yang melahirkan.       332- ahliyah ada’.      333- macam-macam ahliyah ada’,      335- kewajiban baligh dan batasannya.     338- Kemampuan dalam menjalankan, dan macam-macamnya.           339- pengecualian dalam menjalankan: gila.    341- kelupaan, tidur dan igma’.

 

379 Ijtihad

379- pengertian dan macam-macamnya.     380- mahir dalam bahasa arab.   381- mengetahui alqur’an nasakh dan mansukh.           382- Memahami sunnah.      383- mengetahui bab-bab ijma’ dan bab-bab yanng dipertentangkan.      385- mengetahui qiyas dari berbagai segi.        386- mengetahui maksud hukum.        385- Bagus dalam memahami nash dan mampu dalam berijtihad.      388- baik niatnya dan mempunyai aqidah yang benar.     389- kedudukan ijtihad.      389- mujtahid dalam syara’.        395- mujtahid dalam madzhab.        396-Mujtahid yang kuat.     397- tingkatan penjaga.       399- pahala orang yang berijtihad.

 

401- kewajiban bagi yang berfatwa

401- kedudukan fatwa terhadap ijtihad, syarat-syarat mufti.      402- mufti yang bukan mujtahid apakah diikuti dalam fatwanya.      404- mufti yang berlindung dalam madzhab dan kewajiban baginya.    405- kewajiban mengambil mufti yang difatwakan.      407- keterangan-keterangan yang terkandung dalam kitab ini.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: