Beranda > campuran > Pengertian dan Macam-macam Urf (Adat Istiadat)

Pengertian dan Macam-macam Urf (Adat Istiadat)

Urf Ini adalah asal (dasar) pengambilan ulama’  Hanafi dan ulama’ Maliki dalam bab selain bab nash, dan urf adalah apa yang biasa dilakukan oleh manusia dalam muammalah dan menjalankan hal tersebut. Dan ini adalah dasar dari dasar-dasar ushul fiqh, diambil dari hadist nabi yang artinya: apa yang dinggap baik oleh seseorang maka Allah akan menganggap baik hal tersebut. dan Allah telah bersabda: Allah tidak menjadikan agama itu kesulitan.dari itu berkatalah ulama’ dari madzhab Hanafi dan Maliki sesungguhnya tetapnya dengan urf shohih tanpa rusak seperti tetapnya dalil syara’.

Dan ulama’ yang menetapkan bahwa urf adalah asal dasar dari dasar-dasar istimbat hukum, hal ini dapat terjadi bila tidak ditemukan dalil dalam nash dari alqur’an dan sunnah. Apabila urf bertentangan dengan nash dari alqur’an maupun dari sunnah dan mereka mengetahui hukum tersebut seperti haramnya khomer, makan riba maka mereka harus meninggalkan urf tersebut, karena  tersebut maka mengamlkan nash bersifat pasti(wajib), karena sesungguhny syariat datang untuk menjaga dari kerusakan.

Dari itu semua maka urf dibagi menjadi 2 yaitu: urf fasid(adat istiadat yng rusak) ialah apabila urf bertentangan dengan nash yang qot’I dan urf ini ditolak. Yang kedua adalah urf shohih urf ini tidak bertentangan dengan nash dan menjadi dasar dari dasar-dasar  syara’.

Urf shohih dibagi menjdi dua : urfu umum dan urfu khusus. Urf umum adalah kesepakatan manusia disetiap negara.   Dan ulama’ Hanafi berkata sesungguhnya urf ini meninggalkan qiyas dan dinamakan dengan istihsan. Dan umum dapat bersifat khusus bila adanya dalil dzonni, dan tidak ada dalil qot’I, contoh hal ini adalah larangan dari rosullullah saw tentang jual beli syarat. Tetapi ulama’ jumhur hanafi dan maliki membolehkan setiap syarat yang dijalankan dengan urf.

Tetapi apakah urf umum yang dikhususkan terhadap keumuman yang bersifat dzonni dan meninggalkan qiyas? banyak kita temukan ulama’ fiqh yang meninggalkan qiyas dan mereka berkata: sesungguhnya qiyas tidak diperbolehkan tetapi meninggalkan qiyas dengan mengamalkan yang dengan mengira-ngira dari salah satu shohbat tidak dari tabi’in dan tidak pula dari ulama’ suatu negara,dan inilah alasan meninggalkan qiyas.

Dan menerima urfu umum yang benar, urf khusus, adalah urf yang dianut oleh penduduk suatu negara, atau suatu iqlim dari iqlim-iqlim, atau sebagian kelompok manusia. Sesungguhnya urf tidak berhenti didepan nash, tetapi berhenti didepan qiyas yang tidak ada illat yang tetap dengan jalan pastinya dari nash atau apa yang diserupakan dengan nash dari segi kejelasan dan kuatnya.

Wajib bagi hakim dari fuqoha’ mengetahui hukum-hukum yang bersifat menyeluruh, dan faham kejadian-kejadian dari keadaan manusia, dapat membedakan kebenaran dan kebohongan, kemudian menyesuikan ini dengan ini, dan memberikan hukum wajib, dan tidak menjadikan wajib bertentangan dengan keadaan, dalam hal ini seorang mufti yang berfatwa dengan urf wajib mengetahui zaman dan keadaan, mengetahui apakah urf khusus atau umum apakah bertentangan dengan nash atau tidak dan wajib untuk pergi keguru yang pintar dan tidak cukup seorang diri untuk menjaga masalah dan dalil-dalil.

  1. alice pngen .....
    Maret 17, 2011 pukul 2:59 pm

    Wew

  2. Mei 7, 2013 pukul 6:14 am

    It’s awesome in favor of me to have a web site, which is beneficial for my experience. thanks admin

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: