Beranda > campuran > HADIST TENTANG BATAS KETAATAN KEPADA PEMIMPIN

HADIST TENTANG BATAS KETAATAN KEPADA PEMIMPIN

HADIST TENTANG BATAS KETAATAN KEPADA PEMIMPIN

A. Lu’lu’ Wal Marjan juz 2:

Artinya : Hadist Abdulloh Ibnu Umar ra. Dari Nabi SAW. beliau bersabda: mendengar dan mentaati merupakan kewajiban seorang muslim mengenai hal-hal yang ia sukai dan yang ia benci, sepanjang ia tidak diperintahkan untuk berbuat durhaka, tidaklah boleh mendengar dan tidak boleh mengikuti.

B. Biografi Perowi Hadist di atas :

1. ‘Abdulloh Bin Umar Bin khothob Bin Nufail  Quroisy ‘Adawi

Termasuk golongan yang masuk islam pertama kali pada waktu kecil,dan hijrah bersama bapaknya,dia juga menyaksikan peperangan Khondak dan Bai’u Ridwan.

Meriwaytkan dari:  Nabi SAW, ayahnya, zaid, Hafsah, Abi Bakar, Ustman, Ali, Sa’id, Bilal, Zaid bin Stabit,dll.

Yang meriwayatkan hadist dari Abdullah bin Umar: Bilal, Hamzah, Zaid, Salim, ‘Abdulloh, ‘Ubaidulloh, Umar, anak dari anaknya Abu Bakar bin Ubaidullah, anak dari anaknya Muhammad Bin Ziyad, Maulahu nafi’, Urwah Bin Zubair, Musa Bin Tolhah, dan lain sebagainya.

Hafshah berkata, dia mendengar Rosulloh bersabda, “ ‘Abdulloh adalah laki-laki yang sholeh”.

Zubair berkata, “Dia hijrah ketika berumur 10 tahun, dan meninggal pada usia 73 tahun”.

Ibnu Sa’ad berkata, “ beliau meninggal pada tahun ke 4 H”.

Zuhri berkata, “ tidak ada pendapat yang adil kecuali dari beliau”.

 2. Nafi’ Al-Faqih, maulanya Ibnu Umar.

Meriwayatkan Hadist dari: Abdullah Bin Umar Bin Khotob, Abi Hurairaoh, Abu Sa’id Al-Khudriyi, Ummu Salamah, Abdullah, ‘Ubaidullah, Salim dan Zaid anaknya Abdullah Bin Umar dan lain lain.

Yang meriwayatkan hadist dari Nafi’: Abu Umar, Abdullah Bin Dinar, Sholeh Bin Kisan, ‘Abdu Rabbah, Yahya Bin Said Al-Ansori, Yunus Bin Ubaid, Azzuhri, Abdullah Bin Said, ‘Ubidullah bin Umar Al-‘Amiri,, Ubidullah Bin Abi Ja’far, Umar Bin Zaid  Bin Abdullah Bin Umar.

            Ibnu Saib berkata: “Nafi’ adalah tsiqoh, dan banyak hadist”.

            Bukhori berkata: “sanad-sanad shohih yang dimiliki Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar.

            Abdullah Bin Umar berkata: “Umar Bin Abdul Aziz mengutus Nafi’ ke Mesir untuk mengajarkn Hadist”.

            Yahya Bin Baqir dan sahabatnya berkata: meninggal pada tahun 117.

Abu Abid berkata: meninggal tahun 19. dan yang lain: 20.

Ibnu Uyainah dan Ahmad Bin Hambal: meninggal tahun 19.

3. ‘Ubaidullah bin ‘Umar bin Hafs bin ‘Asim bin Umar bin Khotob Al-‘Adawi Al -‘Amiri Al-Madani, (Abu ‘Usman)

Dia meriwayatkan dari: Ummu Kholid binti Kholid bin Sa’id bin Ash, dari ayahnya, Kholid bin Addurrohman, Salim bin Abdullah bin Umar, anaknya Abu Bakar bin Salim, Nafi’ Maulanya ibnu Umar, anaknya umar bin nafi’, Qosim bin Muhammad bin Abi Bakar dan lain lain.

Yang meriwatkan hadist dari ‘Ubaidullah: kakaknya ‘Ubaidullah, Yahya bin Sa’id al Ansori, Jurair bin Hazm, Sufyan bin Hazm, Sulaiman bin Bilal, Kholid bin Kharist, ‘Abdullah bin Idris, Yahya Al-Qottoni, Abu Kholid Al-Ahmari.

Abdullah bin Ahmad berkata dari Ibnu ‘Uyainah: ‘Ubaidullah bin Umar termasuk orang-orang yang tsiqoh.

Nasai berkata: tsiqoh, mempunyai ketetapan yang tinggi.

Hasim bin ‘adi berkata: Meninggal tahun 146.

Urwah berkata: meninggal tahun (4) ada lagi yang berpendapat (45).

Ibnu mabhuwiyh berkata: dia seorang penduduk madinah dan seorang kuraisy yang mulia, mempunyai ilmu yamg tinggi, selalu beribadah, mulia, kuat hafalan, dan seorang yang bertakwa.

4. Yahya Bin Sa’id Farukh Al-Qottoni (Abu Sa’id Al-Basri)

Meriwayatkan dari: Sulaiman Attaimi, Hamid Attowil, Ismail Bin Abi Kholid, ‘Ubaidulloh Bin Umar, Yahya Bin Sa’id Al-Ansori, Hisyam Bin Urwah, Yazid Bin Abi ‘Ubaid, A’mas, Malik, Abdulloh Bin Said Bin Abdi Hindi,Sufyan Attsauri, ‘Ubaidulloh Bin Akhnas, Abdul Hamid Bin Ja’far.

Yang meriwyatkan hadist dari Yahya Al-Qottoni: anaknya Muhammad Bin Yahya Bin Said, Hafidah Ahmad Bin Muhammad, Ahmad, Ishaq, Ali Bin Al-Madini, Yahya Bin Muayyan, Umar Bin Ali Al -falasi, musaddad, abu bakar abi syaibah dan lain lain.

Al Qowrir berkata dari Ibnu Mahdi: “saya tidak melihat yang lebih baik dari Yahya dalam pengambilan Hadist, dan tidak ada yang lebih baik pencarian kecuali dari Yahya Al-Qottoni atau Sufyan Bin Habib”.

      Ibrahim Muhammad At-Taimi berkata: saya tidak mendapati laki-laki yang lebih mengetahui kecuali dari Yahya Al-Qottoni.

      Ibnu Huzaimah berkata: memuji Yahya Bin Sa’id imam ahli zaman.

      Abu Dawud berkata dari Ahmad: saya tidak mengetahui orang yang mempunyai kitab dan dia hafal Hadisnya kecuali Yahya.

Ibnu said berkata: dia seorang yang tsiqoh, yang dapat dipercaya, mempunyai hujjah yang tinggi.

      Al-‘Ajali berkata: orang Basroh, tsiqoh, dia tidak menyampaikan Hadist kecuali dari riwayat yang tsiqoh.

      Umar Bin Ali berkata: saya mendengar dari Yahya bin Said berkata: lahir tahun 120. dan meninggal tahun 198.

      Ali Bin Madini menambahkan meninggal pada bulan Shofar.

5. Musaddad Bin Musarhad Bin Musarbal Al-Basri Al-Sadiyyi.

Meriwayatkan dari: Abdulloh Bin Yahya Bin Katsir, Hasyim, Yazid Bin Zurai’ ‘Isa Bin Yunus, Fashil Bin ‘Iyadz, Ja’far Bin Suliaman, Waqi’, dan Waqi’, Al-Qottoni, Kholid Bin Kharist, dan lain lain.

Yang meriwayatkan hadist dari Musaddad: Bukhori, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, dan lain lain.

Muhammad Bin Harun Al-Falasi dari Ibnu Mu’ayyan berkata: seorang yang mempunyai kejujuran tinggi.

            Nasai berkata: Musaddad seorang yang tsiqoh.

            Ja’far Bin Abi Utsman berkata: saya bertanya pada Ibnu Muyyan: dari siapakah  kamu menulis hadist-hadist dari basroh? Dia berkata: tulislah dari Musaddad karena dia adalah tsiqotu tsiqotin.

            Bukhori berkata: meninggal tahun 228.

6. Imam Bukhori

Nama asli ‘Abdulloh Muhammad Bin Ismail Bin Ibrahim bin Mughiroh bin Bazdariyyah Al-Ja’fi Al-bukhori.

Lahir pada hari jum’at 13 sawwal 193. mulai menghafal hadist ketika berumur 10 tahun. Bukhori hanya mengumpulkan hadist shohih saja kitab yang terkenal adalah shohih bukhori.

Hadist yang diriwayattkan sejumlah 9082 hadist.

C. Penjelasan Hadist  

Hadist diatas menjelaskan tentang batasan ketaatan pada pemimpin, selain kita patuh pada Allah dan Rosul, kewajiban kita selanjutnya adalah kepatuhan pada pemimpin. Meskipun perintah itu sesuatu yang kita benci atau yang kita sukai, meskipun hal tersebut tidak kita sukai tetapi kewajiban kita sebagai seorang muslim mendengarkan dan selanjutnya yaitu mentaati.

Tetapi selain itu ada batasan-batasan ketaatan pada pemimpin. Selama kita tidak diperintahkan untuk berbuat maksiat dan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan-turan agama, tetapi kalau diperintahkan untuk berbuat ma’siat maka kita tidak wajib mendengar dan mematuhi.


  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: