Beranda > Makalah > MAKALAH TEKNIK EVALUASI DATA NON TES

MAKALAH TEKNIK EVALUASI DATA NON TES

TEKNIK EVALUASI DATA NON TES

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliahTeknik Evaluasi Pendidikan

Di susun oleh:

Nur rina mufida

M. Syamsul Huda

Nana wijayanti

 

 

Dosen pengampu:

Gusni Satriawati

 

 

 

Jurusan Tarbiyah

Program Studi Pendidikan Agama Islam

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAMNEGERI

(STAIN) PONOROGO

2009

BAB I

PENDAHULUAN

 

Kegiatan mengukur atau melakukan pengukuran adalah merupakan kegiatan yang paling umum dilakukan dan merupakan tindakan yang mengawali kegiatan evaluasi dalam penilaian hasil belajar.

Tehnik evaluasi disebut juga instrumen atau alat pengumpul data[1] hasil belajar, tidak hanya tertuang dalam bentuk tes dengan berbagai bentuk atau variasinya, akan tetapi masih ada teknik lainya yang bisa digunakan, yaitu teknik non tes.

Teknik non tes pada umumnya memegang peranan penting dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah sikap (affective domain) dan ranah ketrampilan (Psychomotoric domain), sedangkan teknik tes lebih banyak digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah proses berfikirnya (cognitif domain).[2]

Dengan tenik non tes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dapat dilakukan dengan pengamatan secara sistematis (observasi), melakukan wawancara (interview), menyebar angket (quistionnaire), dan memeriksa atau meneliti dokumen-dokumen (documentary analysis),[3] dan juga dapat dilakukan dengan teknik skala nilai, teknik evaluasi partisipatif, studi kasus dan sosiometri.

Dalam makalah ini kami akan membahas terkait dengan teknik evaluasi atau instrumen pengumpulan data dengan bentuk teknik analisis dokumentasi,  studi kasus, dan sosiometri, teknik evalusi partisipasif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

1.      Analisis dokumentasi (pemeriksaan dokumen)

Evaluasi mengenai kemajuan, perkembangan atau keberhasilan belajar peserta didik tanpa menguji (teknik non tes) juga dapat dilengkapi atau diperkaya dengan melakukan pemeriksaan dokumen-dokumen, misalnya dokumen yang memuat informasi mengenai daftar pribadi (personality infentory); seperti kapan peserta didik dilahirkan, agama yang dianut dan lain-lain, dan juga mengenai riwayat hidup (auto biografi) seperti: apakah ia pernah tinggal kelas, apakah ia pernah meraih atau mendapatkan penghargaan dan masih banyak lagi yang lainya.

Informasi-informasi tersebut dapat diperoleh melalui sebuah dokumen berbentuk formulir atau blanko isian yang harus diisi pada saat peserta didik untuk pertama kali diterima sebagai siswa di sekolah yang bersangkutan.

Berbagai informasi, baik mengenai peserta didik orang tua dan lingkunganya pada saat tertentu akan sangat dibutuhkan sebagai bahan pelengkap bagi pendidik dalam melakukan evaluasi hasil belajar terhadap peserta didiknya.[4]

Melalui analisis dokumen data pribadi dapat memberikan sumber keterangan untuk mengadakan penilaian tentang data pribadi siswa, memberikan bimbingan belajar secara optimal dan mengarahkan pilihan karir jabatan dimasa mendatang.[5]

2.      Studi kasus.

Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seorang individu yang dipandang mengalami suatu kasus tertentu. Kelebihan studi kasus dan studi lainya adalah bahwa subjek dapat dipelajari secara mendalam dan menyeluruh. Namun, kelemahanya sesuai dengan sifat studi kasus bahwa informasi yang diperoleh sifatnya subjektif, artinya hanya untuk individu yang bersangkutan dan belum tentu dapat digunakan untuk kasus yang sama pada individu yang lain. Pada umunya permasalahanya berkenaan dengan kegagalan belajar, tidak dapat menyesuaikan diri, gangguan emosional, frustasi dan sering membolos serta kelainan-kelainan perilaku siswa.[6]

Beberapa petunjuk untuk melaksanakan studi kasus dalam bidang pendidikan khusunya disekolah:

  1. Menemukan siswa sebagai kasus, artinya menetapkan siapa-siapa diantara siswa yang mempunyai masalah khusus untuk dijadikan kasus.
  2. Menetapkan jenis masalah apa yang dihadapai siswa dan perlu mendapat bantuan pemecahan oleh guru dalam langkah ini guru sebaiknya mewawancarai siswa untuk menentukan jenis masalah yang dihadapi siswa tersebut.
  3. Mencari bukti-bukti lain untuk lebih meyakinkan kebenaran masalah yang dihadapi siswa tersebut melalui analisis hasil belajar yang dicapainya, mengamati perilakunya, bertanya kepada teman sekelasnya, kalau perlu minta penjelasan dari orang tuanya.
  4. Mencari sebab-sebab timbulnya masalah dari berbagai aspek yang berkenaan dengan siswa itu sendiri.
  5. Menganalisis sebab-sebab tersebut dan menghubungkanya dengan tingkah laku siswa agar diperoleh informasi yang lebih lengkap mengenai latar belakang siswa.
  6. Dengan informasi yang telah lengkap tentang faktor penyebab tersebut, guru dapat menentukan sebuah alternatif pemecahanya. Setiap informasi dikaji lebih lanjut untuk menetapkan alternatif mana yang paling baik untuk dapat mengatasi masalah siswa.
  7. Alternatif yang telah teruji sebagai upaya pemecahan masalah dibicarakan dengan siswa untuk secara bertahap diterapkan, baik oleh siswa itu sendiri ataupun oleh guru.
  8. Terus mengadakan pengamatan dan pemantauan terhadap tingkah laku siswa tersebut untuk melihat perubahan-perubahanya, jika belum menunjukan perubahan, perlakuan guru harus lebih ditingkatkan lagi dengan menggunakan alternatif  lain yang telah ditemukan sebelumnya.

Studi lain yang hampir sama adalah studi perkembangan. Studi perkembangan mempelajari karakteristik individu dan bagaimana karakteristik itu  berubah dalam pertumbuhanya. Karakteristik individu mencakup segi-segi intelektual, emosional, sosial dan kepribadian individu. Studi ini dapat dilakukan pada sekelompok individu pada usia tertentu atau dapat juga dilakukan pada seorang  individu dilakukan dalam jangka waktu yang panjang, oleh karena itu kelemahan utama oleh studi ini adalah waktunya yang terlalu lama, sehingga menuntut biaya, tenaga, dan sumber-suber lain yang cukup banyak.

Penanganan suatu kasus hendaknya dilakukan oleh guru bekerja sama dengan orang tuanya. Dalam hal ini peranan wali kelas: guru pembimbing, guru bidang studi sangat diperlukan. Perhatian terhadap siswa yang menjadi kasus harus ditingkatkan melalui berbagai cara, satu diantaranya mendekatkan diri terhadap siswa tersebut sehingga ia merasa diperhatikan. Lebih jauh lagi guru, pembimbing, wali kelas menggali informasi dari siswa yang bersangkutan sebab-sebab terjadinya kasus sebagai bahan untuk mencari pemecahanya. 

3.      Sosimetri.

Salah satu cara untuk megetahui kemampuan siswa dalam menyesuaikan dirinya terutama hubungan sosial siswa dengan teman sekelasnya, adalah teknik sosiometri. Dengan teknik sosiometri dapat diketahui posisi seorang siswa dalam hubungan sosialnya dengan siswa lain.[7]

Sosiometri dapat dilakukan dengan cara menugaskan kepada semua siswa dikelas tersebut untuk memilih satu  atau dua temanya  yang paling dekat atau paling akrab. Usahakan dalam memilih kesempatan tersebut agar tidak ada siswa yang berusaha melakukan kompromi untuk saling memilih supaya pilihan tersebut bersifat netral, tidak diatur sebelumnya. Tulislah nama pilihan tersebut pada kertas kecil, kemudian digulung dan dikumpulkan oleh guru, setelah seluruhnya terkumpul guru mengolahnya dengan dua cara. Cara pertama melukiskan  alur-alur pilihan dari setiap siswa dalam bentuk diagram sehingga terlihat hubungan antar siswa berdasarkan pilihanya, dengan hasil pilihan tersebut dinamakan sosiogram.

Dengan demikian, hasil dari sosiometri dapat dijadikan bahan bagi guru dalam mempelajari para siswanya terutama dalam menganalisis sebab-sebab seorang siswa termasuk kedalam siswa yang disenangi, atau sebaliknya menjadi yang terisolasi. Dengan perkataan lain sosiometri dapat digunakan sebagai salah satu alat dalam menemukan kasus-kasus siswa disekolah dilihat dari hubungan sosialnya, dan dijadikan alat untuk melengkapi data mengenai perkembangan siswa.

4.      Teknik evaluasi partisipatif

Teknik-teknik evaluasi partisipatif disini maksudnya adalah bahwa evaluator melibatkan langsung subjek yang di evaluasi perencanaan, pelaksanaan dan penilaian evaluasi.[8]

Teknik-teknik tersebut diantaranya:

  1. Teknik respon terperinci ( itemized responsee).

Teknik ini pada umumnya digunakan untuk mengevaluasi proses pembelajaran yang mencakup materi atau bahan pelajaran, proses pembelajaran, keluaran atau dampak pembelajaran. Pengembangan teknik ini menuntut keterlibatan subjek-subjek yang dievaluasi secara sungguh-sungguh. Efektifitas teknik dipengaruhi oleh sejauh mana pengalaman dan kepentingan pihak yang dievaluasi erat hubunganya dengan unsur-unsur program yang sedang dikaji.

Dalam menggunakan teknik respon terperinci evaluator membuat dua kolom dan lajur pada sehelai kertas lebar atau papan tulis. Pada kolom sebelah kiri ditulis sebuah pernyataan yang berbunyi: “hal-hal yang telah dianggap baik tentang materi atau proses pembelajaran yang baru dilakukan. Pada kolom kiri ditulis “hal-hal yang masih perlu dikembangkan dalam materi astau proses pembelajaran yang baru dilakukan.

Untuk mengisi kedua kolom tersebut diatas para subjek yang dievaluasi diminta mengajukan pendapat untuk mengisi kolom sebelah kiri sampai selesai, kemudian dilanjutkan yang sebelah kanan. Dan setiap siswa mendapat kesempatan yang sama untuk menjawabnya.

Setelah semua kolom terisi, selanjutnya dapat ditanyakan kepada semua subjek tentang jawaban mana yang dianggap prioritas berdasarkan ranking yang disusun sesuai pendapat para subjek.

Keunggulan teknik jawaban terinci adalah (1) subjek yang kurang berani bicara “dipaksa” oleh situasi untuk mengemukakan pendapat, (2) subjek mengemukakan pendapat secara terbuka, bebas dan tidak khawatir dikritik atau di cemooh orang lain, (3) subjek membiasakan diri untuk memperhatikan dan menghargai pendapat orang lain serta menghubungkan jalan pikiranya dengan jalan pemikiran orang lain, dan (4) subjek dapat memahami jawaban yang berbeda-beda terhadap pertanyaan sehingga mereka memperoleh berbagai informasi, dan (5) jawaban disampaikan oleh subjek secara singkat, sederhana, padat, dan jelas.

Adapun kelemahanya adalah (1) subjek yang kurang terbiasa mengemukakan pendapat mungkin memberikan jawaban yanhg kabur, terlalu umum, dan berputar-putar (2) subjek akan cenderung menyamakan pendapatnya terhadap jawaban orang lain, (3) mungkin ada jawaban yang dicemoohkan orang lain, (4) memerlukan alat bantu seperti kertas lebar, papan tulis, dan (5) kemungkinan waktu yang digunakan lebih lama dari yang ditetapkan.

  1. Teknik cawan iklan (fish-bowl technique).

Teknik cawan iklan adalah teknik yang digunakan dalam evaluasi dengan mengamati kegiatan diskusi yang sedang berlangsung. Subjek dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok lingkaran dalam misalnya terdiri dari 7 orang dan kelompok lingakaran luar misalnya terdiri dari 13 orang.

Tempat duduk lingakaran dalam bertugas melakukan diskusi tentang berbagai topik topik, yang dipimpin oleh ketua kelompok. Kemudian tempat duduk lingkaran luar disusun melingkar diluar kelompok lingkaran dalam. Tugasnya adalah mengamati diskusi yang dilakukan subjek pada lingkaran dalam.  Apabila ada subjek dari kelompok lingkaran luar ingin bicara dilingkaran dalam maka bersangkutan harus bertukar tempat dengan seoarang yang berada dilingkaran dalam dengan cara memberi isyarat, misalnya menyentuh bahu temanya.

Teknik cawan iklan ini dapat menumbuhkan kegiatan evaluasi yang gembira, aktif, saling belajar, dan mengharuskan peserta terlibat dalam diskusi, mendengarkan dan mengamati.

Keunggulan penggunaan teknik cawan iklan adalah (1) kegiatan evaluasi dilakukan dalam suasana gembira dan penyampaian pendapat dikemukakan secara terbuka, (2) pertanyaan terarah pada materi yang dievaluasi, (3) pertanyaan telah disiapkan sebelumnya, (5) pendapat atau jawaban akan lebih lengkap karena peserta pada kedua lingkaran dapat saling beganti peran, (5) isi pembicaraan dicatat oleh pencatat dan dilaporkan oleh ketua kelompok diskusi, dan (6) penggunaan teknik dapat dilengkapi dengan alat perekam.

Kelemahan teknik cawan iklan adalah (1) jawaban atau pendapat mungkin menyimpang dari materi yang dievaluasi, (2) peserta yang senang berbicara dapat mendominasi pembicaraan, (3) membutuhkan ketrampilan dalam mengemukakan pendapat yang singkat dan tepat, (4) waktu pelaksanaan mugkin bertambah dari waktu yang ditetapkan, dan (5) pengamat yng kurang berani mengemukakan pendapat enggan untuk bertukar tempat dengan peserta diskusi.

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

 

  1. Teknik non tes pada umumnya memegang peranan penting dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah sikap (affective domain) dan ranah ketrampilan (Psychomotoric domain).
  2. Teknik non tes dapat dilakukan dengan pengamatan secara sistematis,  melakukan wawancara, menyebar angket, dan memeriksa atau meneliti dokumen-dokumen, dan juga dapat dilakukan dengan teknik skala nilai, teknik evaluasi partisipatif, studi kasus dan sosiometri.
  3. Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seorang individu yang dipandang mengalami suatu kasus tertentu.
  4. Sosiometri dapat dilakukan dengan cara menugaskan kepada semua siswa dikelas tersebut untuk memilih satu  atau dua temanya  yang paling dekat atau paling akrab.
  5. Teknik evaluasi partisipati terdiri dari dua bagian yaitu:
  1. teknik respon terperinci.
  2. Teknik cawan iklan.

 

 

 

 

 

 

 

REFERENSI

 

  • Sudjana Djuju, Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah; untuk Pendidikan Non Formal dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006)
  • Sudiyono Anas, Pengantar Evaluasi Pendidikan (Jakarta)
  • Fuadi Athok, System Pengembangan Evaluasi (Poorogo Press,2006)
  • Sudjana Nana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995)

 


[1] Djuju sujana, Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah; untuk Pendidikan Non Formal dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), 173

[2] Anas Sudiyono, Pengantar Evaluasi Pendidikan (Jakarta :15)

[3] Ibid

[4] Ibid: 90

[5] Athok Fuadi, System Pengembangan Evaluasi (Poorogo Press,2006),13

[6] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995) 94-95

[7] Ibid: 99

[8] Djuju sujana, Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah; untuk Pendidikan Non Formal dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), 202

  1. April 17, 2013 pukul 5:00 am

    Helpful information. Lucky me I discovered
    your website accidentally, and I am shocked why this accident did not happened
    earlier! I bookmarked it.

  2. Mei 3, 2013 pukul 4:21 am

    I’m now not positive where you’re getting your info, but good topic.
    I must spend a while studying much more or working out more.
    Thanks for excellent information I was searching for this info for my mission.

  3. September 28, 2013 pukul 12:26 am

    Thanks for a marvelous posting! I genuinely enjoyed reading it, you may be a great author.

    I will ensure that I bookmark your blog and definitely will come back very soon.
    I want to encourage you continue your great job, have a nice morning!

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: