Beranda > Makalah > MAKALAH DINAMIKA PENDIDIKAN BERBASIS MASYARAKAT DALAM ISLAM

MAKALAH DINAMIKA PENDIDIKAN BERBASIS MASYARAKAT DALAM ISLAM

DINAMIKA PENDIDIKAN BERBASIS MASYARAKAT DALAM ISLAM

 

 

Makalah ini disusun untuk memenuhi

tugas pada mata kuliah

“Kapita Selekta Pendidikan Islam”

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :

Muhammad Romdloni

 

 

Dosen Pengampu: Sugiyar, M.Pd.I

 

Jurusan: Tarbiyah/PAI “D”

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

(STAIN) PONOROGO

2008

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.       Latar Belakang

Perkembangan pendidikan Islam di Indonesia hingga saat ini sudah berkembang dengan cepat, baik yang bersifat formal, non formal maupun informal, mulai dari pendidikan pesantren, madrasah, PTAI dan lain sebagainya. Dalam perluasan pelayanan pendidikan terhadap masyarakat telah muncul paradigma pendidikan berbasis masyarakat yang dipicu oleh arus besar modernisasi yang menghendaki terciptanya demokratisasi dalam segala dimensi kehidupan manusia

Dalam menghadapi cepatnya perkembangan tersebut yang sudah tentu membawa perubahan, maka para pengembang pendidikan Islam untuk selalu tanggap dalam menghadapi segala bentuk perubahan yang terjadi, terutama dalam pengembangan pendidikan berbasis masyarakat di dalam masyarakat..

 B.       Rumusan Masalah

1. Bagaimana Pendidikan Berbasis Masyarakat dalam Perspektif Pendidikan Islam?

2. Bagaimana Pengembangan Pendidikan Berbasis Masyarakat pada Pesantren?

3. Bagaimana Pengembangan Pendidikan Berbasis Masyarakat pada Madrasah?

4. Bagaimana Pengembangan Pendidikan Berbasis Masyarakat pada PTAI?

                                                                 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.       Pendidikan Berbasis Masyarakat dalam Perspektif Pendidikan Islam

Pendidikan berbasis masyarakat menjadi sebuah gerakan penyadaran masyarakat untuk terus belajar sepanjang hayat dalam mengatasi tantangan kehidupan yang berubah-ubah dan semakin berat. Secara konsepual, penddikan berbasis masyarakat adalah model penyelenggaraan pendidikan yang bertumpu pada prinsip “dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat”. Maksudnya, masyarakat perlu diberdayakan, diberi peluamg dan kebebasan untuk mendesain, merencanakan, membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa yang diperlukan secara spesifik di dalam, untuk dan oleh masyarakat sendiri.[1]

Prinsip pendidikan berbasis masyarakat adalah pendidikan yang dirancang, diatur, dilaksanakan, dinilai dan dikembangkan oleh masyarakat yang mengarah pada usaha untuk menjawab tantangan dan peluang yang ada dengan berorientasi pada masa depan serta memanfaatkan kemajuan teknologi.[2]

Jenis pendidikan ini yang dikembangkan atas inisiatif warga masyarakat untuk menjawab problema hidupnya, dikelola secara mandiri dengan memanfaatkan fasilitas yang dimiliki masyarakat serta menekankan pentingnya partisipasi setiap warga pada setiap kegiatan belajar. Oleh karena itu, pendidikan berbasis masyarakat pada dasarnya dirancang oleh masyarakat untuk membelajarkan mereka sendiri sehingga lebih berdaya, dalam arti memiliki kekuatan untuk membangun dirinya sendiri melalui interaksi dengan lingkunagnnya.

Kemudian model pendidikan berbasis masyarakat untuk konteks Indonesia kini semakin diakui keberadaannya pasca pemberlakuan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Keberadaan lembaga ini diatur pada 26 ayat 1 s/d 7.[3] Dengan berpijak pada UU Sisdiknas itu, pendidikan berbasi masyarakat pada konteks Indonesia menunjuk pada pengertian yang bervariatif, antara lain mencakup: (a) pendidikan luar sekolah yang diberikan oleh organisasi akar rumput (grassroot organization) seperti pesantren dan LSM, (b) pendidikan yang diberikan oleh sekolah swasta atau yayasan, (c) pendidikan dan pelatihan yang diberkan oleh pusat pelatihan milik swasta, (d) pendidikan luar sekolah yang disediakan oelh pemerintah, (e) pusat kegiatan belajar masyarakat, (f) pengambilan keputusan yang berbasis masyarakat.

B.       Pengembangan Pendidikan Berbasis Masyarakat pada Pesantren

Pesantren merupakan salah satu model pendidikan berbasis masyarakat. Kebanyakan pesantren berdiri atas inisiatif masyarakat muslim yang tujuan utamanya adalah untuk mendidik generasi muda agar memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan baik. Pesantren dengan cara hidupnya yang bersifat kolektif barangkali merupakan perwajahan atau cerminan dari semangat dan tradisi dan lembaga gotong royong yang umum terdapat di pedesaan.[4]

Seiring dengan perjalanan bangsa kita, ketika lembaga-lembaga sosial yang lain belum berjalan secara fungsional maka pesantren telah menjadi pusat kegiatan masyarakat dalam belajar. Tegasnya, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang unik, tidak saja karena keberadaaanya yang sudah sangat lama, tetapi juga karena kultur, metode dan jaringan yang diterapkan oleh lembaga pendidikan agama ini yang khas. Pesantren ini juga memiliki jaringan sosial yang kuat dengan masyarakat dan dengan sesama pesantren karena sebagian besar pengasuh pesantren tidak saja terikat pada kesamaan pola pikir, paham keagamaan, namun juga memiliki hubungan kekerabatan yang cukup erat.[5]

Dinamika lembaga pendidikan Islam yang relatif tua di Indonesia ini tampak dalam beberapa hal, seperti:[6] pertama, peningkatan secara kuantitas terhadap jumlah pesantren. Kedua, kemampuan pesantren untuk selalu hidup di tengah-tengah masyarakat yang sedang mengalami berbagai perubahan. Secara sosiologis, ini menunjukkan bahwa pesantren masih memiliki fungsi nyata yang dibutuhkan masyarakat.

Perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan, bahwa beberapa pesantren ada yang tetap berjalan meneruskan segala tradisi yang diwarisinya secara turun-temurun, tanpa perubahan dan improvisasi yang berarti kecuali sekedar bertahan. Namun ada juga pesantren yang mencoba mencari jalan sendiri, dengan harapan mendapatkan hasil yang lebih baik dalam waktu uang singkat. Pesantren semacam ini adalah pesantren yang menyusun kurikulumnya, berdasarkan pemikiran akan kebutuhan santri dan masyarakat sekitarnya. Pesantren ini lazimnya disebut sebagai pesantren modern. Program pendidikan dan pengajarannya jauh lebih besar dari pada pesantren tradisional. Pesantren demikian biasanya mengintrodusir beberapa disiplin ilmu umum, pengajarannya menggunakan sistem klasikal, dengan struktur kelas dan jenjang pendidikannya bertingkat mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

C.       Pengembangan Pendidikan Berbasis Masyarakat pada Madrasah

Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam, mulai didirikan dan berkembang di dunia Islam sejak sekitar abad ke-5 H atau abad ke 10-11 M. Pada saat itu Islam telah berkembang secara luas dalam berbagai macam ilmu pengetahuan, dengan berbagai macam ilmu aliran atau madzhab dan pemikirannya. Pembidangan ilmu pengetahuan tersebut, bukan hanya meliputi ilmu-ilmu yang berhubungan dengan Al-qur`an dan hadits, seperti ilmu-ilmu Al-qur`an, hadits, fiqh, ilmu kalam, maupun ilmu tasawuf, tetapi juga bidang-bidang filsafat, astronomi, kedokteran, matematika dan berbagai bidang ilmu-ilmu alam dan kemasyarakatan.[7]

Kemudian madrasah mulai muncul atau berkembang di Indonesia, sejak pemerintahan kolonial Belanda berkuasa di Indonesia yang ketika itu berawal dari keadaan pendidikan yang mana antara pendidikan pesantren dengan pendidikan kolonial sangat berbeda dan boleh dikatakan kontradiksi, baik menyangkut sistem maupun materi yang diberikan. Dari keadaan tersebutlah menyebabkan lahirnya pemikiran baru dikalangan umat Islam khususnya bagi mereka yang terpelajar, mereka berusaha untuk menetralisir dan menghilangkan jurang pemisah yang ada, disamping itu juga untuk menjadikan ajaran Islam sesuai dengan ajaran Al-qur`an dan sunnah Rasul. Usaha yang mereka lakukan ini yaitu untuk mengadakan pembaharuan dalam pendidikan Islam.

Pada tahun 1910 didirikan Madrasah School (Sekolah Agama) yang dalam perkembangannya berubah menjadi Diniyah School (Madrasah Diniyah) yang berkembang hampir di seluruh Indonesia. Kemudian dalam perkembangannya sekitar tahun 1950 setelah Indonesia merdeka madrasah terbagi dalam jenjang-jenjang pendidikan; Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.[8]

Selanjutnya perkembangan madrasah sejak pertengahan tahun 1970-an, jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Belakangan ini, terutama sejak ditetapkan UU No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN), posisi madrasah sejajar dengan sekolah umum. UUSPN No. 2o tahun 2003 lebih tegas lagi, bahwa madrasah adalah  ‘sekolah umum’ sebagaimana sekolah umum lainnya. Serangkaian kebijakan pemerintah agaknya telah mengubah madrasah pada posisi yang sederajat dengan sekolah-sekolah umum, baik negeri maupun swata. Kedudukan yang bersifat legal formal sebagai wujud kebijakan pemerintah ini, satu sisi dapat mendongkrak status madrasah di mata madrasah dari sebagai lembaga pendidikan kelas dua meningkat sejajar dengan pendidikan umum.[9]

Dalam upaya pengembangan dan peningkatan mutu madrasah dalam hal kurikulum, selain kurikulum yang berlaku secara nasional, dalam kuriklum tahun 1994 juga telah diatur kurikulum yang bersifat lokal dan ciri khas. Kurikulum yang bersifat lokal ini pada dasarnya ditentukan sendiri oleh masing-masing lembaga pendidikanatau pihak-pihak lain tang terkait, dengan ketentuan sebagai berikut:

“ Madrasah dapat menambah mata pelajaran sesuai dengan keadaan lingkungan dan ciri khas madrasah yang bersangkutan dengan tidak mengurangi kurikulum yang berlaku secara nasional dan tidak menyimpang dari tujuan pendidikan nasional. Madrasah juga dapat menjabarkan dan menambah kajian dari mata pelajaran sesuai dengan kebutuhan setempat”.[10]

Berdasarkan ketentuan di atas, bahwa kurikulum lokal dan kurikulum ciri khas dapat dikembangkan pada madrasah sepanjang ketersediaan waktu dan kesempatan masih memungkinkan, dengan tidak mengurangi dan bertentangan dengan kurikulum yang diatur secara nasional.

D.       Pengembangan Pendidikan Berbasis Masyarakat pada PTAI

Pada tahun 1945 tepatnya 8 Juli 1945 dengan bantuan pemerintah pendudukan Jepang, disaat peringatan Isra` Mi`raj Nabi Muhammad SAW didirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta. Tujuan dari pendirian lembaga pendidikan tinggi ini pada mulanya adalah untuk mengeluarkan alim ulama yang intelek, yaitu mereka yang mempelajari ilmu pengetahuan agama Islam secara luas dan mendalam, serta mempunyai pengetahuan umum yang perlu dalam masyarakat modern sekarang.

Kemudian pada tanggal 22 Januari 1950 sejumlah pemimpin Islam dan para ulama mendirikan sebuah Universitas Islam di Solo. Dan pada tahun 1950 itu juga Fakultas Agama yang semula University Islam Indonesia Yogyakarta diserahkan ke pemerintah yakni kementerian Agama yang kemudian dijadikan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dengan PP Nomor 34 tahun 1950, yang kemudiannya menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN).[11]

IAIN sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam, jelas mempunyai konstribusi terhadap model keberagaman masyarakat Muslim Indonesia. Studi Islam yang dilakukan di IAIN, tidak hanya mendukung model keberagaman inklusif dikalangan masyarakat Muslim Indonesia, lebih dari itu, diharapkan IAIN juga mampu menciptakan kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Karena kualitas IAIN akan menentukan corak perkembangan Islam Indonesia di masa depan.[12]

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

  1. Pendidikan berbasis masyarakat merupakan model penyelenggaraan pendidikan yang bertumpu pada prinsip “dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat”.
  2. Pesantren merupakan salah satu model pendidikan berbasis masyarakat. yang tujuan utamanya adalah untuk mendidik generasi muda agar memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan baik yang cara hidupnya bersifat kolektif yang merupakan perwajahan atau cerminan dari semangat dan tradisi dan lembaga gotong royong yang umum terdapat di pedesaan.
  3. Madrasah muncul dari keadaan pendidikan yang mana antara pendidikan pesantren dengan pendidikan kolonial yang saat itu sangat berbeda dan kontradiksi, baik menyangkut sistem maupun materi yang diberikan. Dari keadaan tersebut lahirlah pemikiran baru dikalangan umat Islam khususnya bagi mereka yang terpelajar, mereka berusaha untuk menetralisir dan menghilangkan jurang pemisah yang ada, disamping itu juga untuk menjadikan ajaran Islam sesuai dengan ajaran Al-qur`an dan sunnah Rasul.
  4. IAIN mempunyai konstribusi terhadap model keberagaman masyarakat Muslim di Indonesia. Jadi IAIN diharapkan mampu menciptakan kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Karena kualitas IAIN akan menentukan corak perkembangan Islam Indonesia di masa depan.

 

 

 

 

 

 

 

 

REFERENSI

 

Zubaedi, Pendidikan Berbasis Masyarakat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006

Khozin, Jejak-JejakPendidikan  Islam di Indonesia, Malang: Universitas Muhamadiyah Malang, 2006

            Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996

 


[1] Zubaedi, Pendidikan Berbasis Masyarakat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), 132.

[2] Ibid, 135.

[3] Ibid, 135.

[4] Ibid, 140.

[5] Idid, 141.

[6] Khozin, Jejak-JejakPendidikan  Islam di Indonesia, (Malang: Universitas Muhamadiyah Malang, 2006), 107.

[7] Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996), Cet. ke-2, 161.

[8] Ibid, 170.

[9] Khozin, Jejak-JejakPendidikan Islam Di Indonesia, 111.

[10] Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, 197.

[11] Ibid, 199.

[12] Khozin, Jejak-JejakPendidikan Islam Di Indonesia, 161.

 

 

  1. jumrianajie paenk
    Januari 1, 2012 pukul 2:05 pm | #1

    wah makalahnya cukup membantu untuk menyelesaikan tugas saya…………
    trima kasih ya makalahnyaaaaaaaaaaa…………..

  2. amir
    Januari 10, 2012 pukul 12:22 pm | #2

    makalah ini cukup membantu penyususnan karya tulis saya, terima kasih semoga ilmunya uhan yang maha kuasa

  1. Januari 15, 2012 pukul 9:16 am | #1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: