Beranda > Ilmu Kalam > LATAR BELAKANG TIMBULNYA MASALAH AKIDAH DALAM ISLAM (Dampak arbitrase)

LATAR BELAKANG TIMBULNYA MASALAH AKIDAH DALAM ISLAM (Dampak arbitrase)

Kekisruhan politik akibat terbunuhnya utsman pada tahun 35 H berlanjut dimasa ali bin abi thalib. Kekisruhan ini mencapai klimaks dengan meletusnya perang jamal (35 H/656 M) antara pasukan ali dan aisyah yang dibantu oleh zubair dan thalhah, yang disusul dengan perang shiffin (36 H/657 M) antra pihak ali dan muawwiyah.

Dalam perang shiffin, tentara muawwiyah terdesak sehingga pihak muawwiyah meminta berdamai dengan mengangkat al-Qur’an ketas. Qurra yang ada dipihak ali mendesak ali agar menerima tawaran itu. Maka disepakati perdamaian dengan mengadakan arbitrase atau tahkim.
Dalam abitrase ini, diangkat dua orang sebagain abritrer, yakni amr bin Al-ash (pihak muawwiyah) dan abu musa Al-asy’ari (pihak ali). Diantara dua arbitrer itu ada kemufakatan untuk menjatuhkan kedua pemuka yang sedang bertentangan itu, ali dan muawwiyah. Tradisi menyebut bahwa abu musa, sebagai tertua, terlebih dahulu berdiri mengumumkan tentang penjatuhan kedua orang yang bertentangan itu. namun, berbeda dengan amr bin Al-Ash, ia hanya menyetujui penjatuhan ali dan menolak penjatuhan muawwiyah.

Dari segi politik, perang shiffin yang berakhir dengan arbitase itu tidak diterima oleh kelompok pengikut ali. Mereka membentuk kelompok sendiri yang dikenal deangan khawarij. Mereka mempersalahkan ali karena telah menerima ajakan arbitrase dari muawwiyah. Bagi mereka, tidak ada hukum yang dapat ditetapkan kecuali berdasarkan hukum Allah seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an surat al-Maidah ayat 44 (barang siapa yang tidak menentukan hukum dengan apa yang telah diturunkan Allah, adalah kafir). Prinsip ini kemudian menjadi semboyan mereka, dan menyebabkan mereka mudah mengkafirkan orang yang berjalan diluar hukum-hukum Tuhan, utamanya untuk membawa konsekuensi dosa-dosa (murtakib al-kabiir). Dengan dasar itu pula, mereka mengkafirkan ali, muawwiyah, abu musa, amr bin ash, dan semua orang yang terlibat arbitrase. Utsman, aisyah, thalhah, dan zubair pun dipandang kafir karena terlibat perang jamal. Bahkan, al-zariqah salah satu sekte yang amat ekstrim, mengkafirkan semua orang yang menyalahi pendapat-pendapat mereka.

Pernyataan mereka itu tentu bukan lagi masalah politik, tetapi persoalan teologi. Oleh karena itu, harun nasution mengatakan bahwa persoalan-persoalan yang terjadi dalam lapangan politik, sebagaimana digambarkan diatas, telah mendorong timbulnya persoalan-persoalan teologi.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: