Beranda > Ilmu Kalam > ALIRAN-ALIRAN ILMU KALAM (ALIRAN KHAWARIJ)

ALIRAN-ALIRAN ILMU KALAM (ALIRAN KHAWARIJ)

Aliran khawarij adalah aliran dalam teologi islam yang pertama kali muncul, menurut ibnu Abi Bakar Ahmad al-Syahrastani, bahwa yang disebut khawarij adalah setiap orang yang keluar dari imam yang hak dan telah disepakati para jama’ah, baik ia keluar pada masa sahabat khulfaur rasyidin, atau masa tabiin secara baik-baik. (ibnu Abi Bakar Ahmad al-Syahrastani, al milal wa nihal, dar al Fikr, libanon, beirut, hml. 114).

nama khawarij berasal dari kata “kharaja” yang berarti keluar. Nama ini diberikan kepada mereka yang keluar dari brisan ali. Khawarij sebagai sebuah aliran teologi adalah kaum yang terdiri dari pengikut ali bin abi thalib yang meninggalkan barisannya, karena tidak setuju terhadap sikap ali yang menerima arbitrase sebagai jalan menyelesaikan persengketaan khalifah dengan muawwiyah ibn abi sufyan. Mereka pada umumnya terdiri dari orang-orang arab baduwi. Kehidupan dipadang pasir yang serba tandus menyebabkan mereka bersifat sederhana baik dalam cara hidup maupun pemikiran. Namun mereka keras hati, berani, bersikap merdeka, tidak tergantung pada orang lain dan cenderung radikal. Perubahan yang dibawakan agama kedalam diri mereka, tidak mampu mengubah sifat-sifat badawi yang mereka miliki itu. Mereka tetap bersikap bengis, suka pada kekrasan dan tak gentar menghadapi mati. Karena kehidupan sebagai badawi menyebabkan mereka jauh dari ilmu pengetahuan. Ajaran islam sebagaimana yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadis mereka pahami secara literl atau lafdziyah serta harus dilaksanakan sepenuhnya. Oleh karena itu iman dalam paham mereka bercorak sederhana, sempit, fanatik dan ekstrim. Iman yang tebal tetapi sempit, ditambah dengan sikap fanatik, membuat mereka tidak dapat mentolerir penyimpangan terhadp ajaran islam menurut mereka. Menurut harun nasution disinilah letaknya penjelasan mengapa mereka mudah terpecah menjdi golongan-golongan kecil, serta dapat pula dimengerti mengapa mereka terus-menerus mengadakan perlawanan terhadap penguasa-penguasa islam yang ada dizamannya.Golongan-golongan khawarij yangg terbesar menurut al-Asyahrastani ada delapan, yaitu : al-Muhakkimah, al-Azariqah, al-Najdah, al-Baihasiyyah, al-Ajaridah, al- Ibadiah dan al-Syufriyyah. Selain itu terdapat sisanya yang merupakan cabang dari yang pokok, sehingga kalau dijumlahkan seluruhnya dapat mencapai delapan belas sekte. (Prof. Dr. Harun Nasution, Teologi Islam, UI Press, Jakarta, cet II, 1972, hlm 11-13)
Dalam uraian ini akan disebutkan bebrapa saja dari aliran-aliran tersebut sebagai berikut:

a. Al-Muhakkimah
Al-Muhakkimah adalah mereka yang keluar dari barisan ali ketika berlangsung peristiwa tahkim (arbitrase) dan kemudian berkumpul disuatu tempat yang bernama harura, bagian dari negeri kufah.
Pimpinan mereka diantaranya Abdullah bin Al-Kawa, Utab bin al-A’war, Abdullah bin wahab al-Rasiby. Al-Muhakkimah ini adalah golongan khawarij pertama yang terdiri dari pengikut ali, merekalah yang berpendapat bahwa ali, muawwiyah, kedua pengantar-Amr ibnu al-Ash dan Abu Musa al-Asy’ari serta semua orang yang menyetujui tahkim (arbitrase) sebagai orang yang bersalah dan menjadi kafir. Demikian orang yang berbuat zina menurut mereka dosa besar, kafir, dan keluar dari islam. Begitu pula orang yang membunuh sesama manusia tanpa sebab-sebab yang sah adalah dosa besar, keluar dari islam dan menjadi kafir. Demikian pula dengan dosa-dosa besar lainnya, dapat mengakibatkan keluar dari islam dan kafir.

b. Al-Azariqah
Al-Azariqah adalah bagian dari golongan khawarij yang dapat menyusun barisan baru yang besra dan kuatdaerah kekuasaannya terletak diperbatsan irak dan iran. Jika muhakkimah dinisbatkan pada peristiwa tahkim, maka nama al-Zariqah dinisbatkan pada tokohnya bernama nafi’ ibn al-Azraq, para pengikut golongan ini, menurut al-baghdadi berjumlah lebih dari dua puluh ribu orang. Khalifah yang pertama yang mereka pilih adalah nafi’ sendiri, dan kepadanya mereka memberi gelar Amir al-Mu’minin. Tokoh ini kemudian wafat pada pertempuran diirak pada tahun 686 M. (al-Syahrastani…..hlm, 118)
Sub sekte al-Zariqah ini, sikapnya lebih radikal dari al=Muhakkimah. Mereka mengubah term kafir menjadi term musyrik atau polytheis dan term yang disebut terakhir ini lebih tinggi kedudukannya daripada kufur. Keradikalan sub sekte ini antara lain terlihat pada pendapat-pendapatnya, seperti boleh membunuh anak kecil yang tak sealiran dengan mereka, menghukum anak-anak orang musyrik didalam neraka beserta orang tuanya, orang-orang yang melakukan dosa besar dan dan dosa kecil secara kontinue dapat menjadi kafir, orang yang melakukan dosa besar disebut kafir millah, keluar dari islam secara total dan kekal dalam neraka beserta orang kafir. (al-Syahrastani…..hlm,121-122)

c. Al-Najdat
Berlainan denga al-Zariqah, Najdah berpendapat bahwa orang yang berdosa besar dan dapat menjadikafir serta kekal dalam neraka hanyalah orang islam yang tak sepaham dengan golongannya. Sedangkan pengikutnya jika mengerjakan dosa besar, betul akan mendapatkan balasan siksa, tetapi bukan dalam neraka dan kemudian akan masuk surga.
Seterusnya mereka berpendapat bahwa yang diwajibkan bagi setiap orang islam ialah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, mengetahui haram membunuh orang islam dan percaya kepada seluruh apa yang diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya itu. Orang yang tidak mengetahui semua ini tidak dapat diampuni dosanya.
Daftar Pustaka
Drs. Abuddin Nata, M.A, Ilmu Kalam, Filsafat, dan Tsawwuf (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1998 hlm, 29-33)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: