Beranda > Makalah > MAKALAH TEORI BELAJAR GESTALT

MAKALAH TEORI BELAJAR GESTALT

A. Pengertian Teori Belajar Gestalt
Belajar adalah semua aktivitas yang menuju ke arah perubahan. Pembelajaran juga perlu di dukung oleh adanya suatu Teori dalam belajar, adapun salah satu dari teori tersebut adalah Teori belajar Gestalt. Ahli – ahli psikologi Gestalt berpandangan navistik,dalam arti ketika menafsirkan interaksi antara individu dan lingkungan ahli-ahli tersebut menganggap bahwa yang menentukan adalah bagaimana caranya individu itu menghadapi linkungannya, misalnya saja dalam melihat corak,dimensi ketiga dan objek lain-lain .
Dengan kata lain bahwa pada hakekatnya yang menentukan proses belajar adalah tergantung pada pengaturan objek-objek yang dilihat kini dan bukan hasil belajar di masa lampau. Dan teori belajar gestalt ini mewakili aliran-aliran yang bersifat molar,dimana para ahli yang mengikuti aliran ini menganggap yang primer adalah keseluruhan,bukan bagian-bagian. Misalnya lagu,lagu adalah lebih dari jumlah nada-nada.
Orang yang dipandang menjadi perintis dalam teori Gestalt adalah Max Wertherimer di Jerman. Gestalt pada bahasa Jerman adaalah suatu konvigurasi, kesatuan atau keseluruhan. Menurut teori Geslalt ini belajar dimulai dari keseluruhan, baru kemudian kepada bagian-bagian suatu keseluruhan terdiri atas bagian-bagian yang mempunyai hubungan satu sama lain.
Dengan kata lain bahwa belajar, siswa dapat menangkap makna dari hubungan antara bagian satu dengan bagian yang lain. Permulaan Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan (Persepsi) dan mencapai sukses yang terbesar di dalam lapangan ini. Di samping itu teori Gestalt sangat menekankan insight.

B. Prinsip-Prinsip Belajar dalam Teori Gestalt.
Adapun prinsip –prinsip belajar teori gestalt adalah :
1. Belajar berdasarkan keseluruhan.
2. Belajar adalah suatu proses perkembangan.
3. Siswa sebagai organisme keseluruhan.
4. Terjadi transfer.
5. Belajar adalah reorganisasi pengalaman.
6. Belajar dengan insight.
7. Belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan, dan tujuan siswa.
8. Belajar berlangsung terus menerus.

C. Aplikasi Teori Belajar Gestalt dalam Proses Belajar Mengajar
Ketika para Ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar, maka hasil-hasil yang telah kuat atau sukses dalam penelitian mengenai pengamatan-pengamatan itu dibawanya dalam studi mengenai belajar dan alasan-alasan yang dulunya ditujukan terhadap teori Asosiasi kini dilancarkan terhadap teori refleks bersyarat dan teori refleks yang lainnya. Adapun tokoh yang mentransferkan pengamatan ke belajar adalah Koffka, titik tolak yang digunakan oleh koffka dalam mempersoalkan belajar adalah asumsi bahwa hukum-hukum organisasi
dalam pengamatan itu berlaku bagi belajar.
Hal ini dikemukakan berdasarkan pada kenyataan bahwa belajar itu pada pokoknya yang terpenting adalah penyesuaian, yaitu mendapat respons yang tepat. Ada suatu hukum yang sangat terkenal dalam teori Geslalt yaitu yang kurang lebih berarti teratur, seimbang atau harmonis. Jika dikaitkan dengan belajar adalah di mana belajar merupakan upaya mencari dan menemukan keteratuaran, keharmonisan dari sesuatu yang dipelajarinya.
Adapun cara untuk menemukan atau menciptakan hukum Pragnaz (keteraturan, keharmonisan) dalam proses belajar diperlukan adanya pemahaman atau Insight. Menurut Ernest Hilgrad ada enam ciri dari belajar yang mengandung insight, di antaranya adalah:
1. Pemahaman dipengaruhi oleh kemampuan dasar
2. Pemahaman dipengaruhi oleh pengalaman belajar yang lalu
3. Pemahaman tergantung pada pengaturan situasi
4. Pemahaman dipengaruhi oleh usaha-usaha
5. Belajar dengan pemahaman dapat diulangi
6. Suatu pemahaman dapat diaplikasikan bagi pemahaman situasi lain.
Dalam artian jika teori Gestalt ini diaplikasikan dalam pelaksanaan mengajar, guru tidak akan memberikan potongan-potongan atau bagian-bagian bahan ajar, tetapi selalu satu kesatuan. Guru memberikan suatu kesatuan situasi atau bahan yang mengandung persoalan-persoalan, di mana anak atau siswa berusaha menemukan hubungan antar bagian, memperoleh Insight agar ia dapat memahami keseluruhan situasi atau bahan tersebut.
Contoh lain ketika teori Gestalt ini diaplikasikan dalam dunia belajar mengajar adalah ketika guru memberikan pelajaran membaca diawali dengan metode global, contohnya dibantu dengan gambar yang menerangkan isi bacaan agar siswa dapat menangkap isi bacaan tersebut meskipun belum tahu huruf. Dapat dicontohkan ada suatu cerita tentang ibu pergi ke pasar, untuk memudahkan siswa memahami isi bacaan tersebut maka dibantu dengan media visual berupa gambar, karena ini akan membantu siwa untuk memahami isi bacan meskipun belum tahu atau belum mengerti huruf tetapi siswa sudah bisa menangkap makna dari bacaan tersebut melalui gambar tersebut.
Dalam metode ini selain terjadi pemahaman bagian dan hubungan antar bagian, terjadi pula proses penguraian (analisis) dan perpaduan (sintesis), di mana untuk mengerti isi bacaan hendaknya dibaca dulu bahan bacaan tersebut secara keseluruhan. Adapun penggunaan metode global bukan saja digunakan dalam permulaan membaca tetapi belajar di sekolah juga.
Adapun pada sumber lain menjelaskan aplikasi teori Gestalt pada proses pembelajaran antara lain :
a) Pengalaman tilikan ( insight ), pengalaman ini sangat penting dalam perilaku dimana dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu objek atau peristiwa.
b) Pembelajaran bermakna ( meaningfull learning ), kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran.
c) Perilaku brtujuan ( pusposive behaviour ), bahwa perilaku terarah pada tujuan. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
d) Prinsip ruang hidup ( life space ), bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan di mana ia berada.
e) Transfer dalam belajar, yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi tertentu kesituasi lain. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.

REFERENSI

http//id.shvoong/tags/teori belajar Gestalt
Elearningpo.UNP.ac.id/index.Php?=com_content&task=view&id=129&item.d
http//asnaldi.multiply.com/journal/item/5-53k-.
Ibrahim, R & Syaodih, Nana. Perencanaan dan Pengajaran. Jakarta: PT. Rineka cipta. 1995
Suryasubrata, Sumadi. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2002

  1. ci cuit cinaga
    Oktober 20, 2011 pukul 3:06 pm

    materinya bgs ..thanks ya buat info nya….salam cinta

  2. maswid
    April 9, 2013 pukul 9:24 pm

    suqses bro maqalahnya baguuuussssssss

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: