Beranda > Ilmu Kalam > ASAL-USUL, PANDANGAN, DAN PENDAPAT ALIRAN MURJI’AH

ASAL-USUL, PANDANGAN, DAN PENDAPAT ALIRAN MURJI’AH

Aliran ini murji’ah ini mucul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yng melakukan dosa besar, sebagaimana hal itu dilakukan oleh aliran khawarij. Mereka menangguhkan penilaian orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim (arbitrase) itu dihadapan Tuhan. Karena hanya tuhanlah yang mengetahui keadaan iman seseorang. Demikian pula orang mukmin yang melakukan dosa besar itu dianggap tetap mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya. Dengan kata lain bahwa orang mukmin sekalipun melakukan dosa besar masih tetap mengucapkan dua kalimat syahadat yang menjadi dasar utama dari iman. Oleh karena itu orang tersebut masih tetap mukmin, bukan kafir.

Pendangan mereka ini terlihat pada kata murji’ah itu sendiri yang berasal dari kata arja-a yang berarti orang menangguhkan, mengakhirkan dan member pengharapan. Menagguhkan berarti bahwa mereka menunda soal siksaan seseorang ditangan tuhan, yakni jika tuhan mau memaafkan ia akan langsung masuk surge, sedangkan jika tidak, maka ia akan disiksa sesuai dengan dosanya, dan setelah itu ia akan dimasukkan kedalam surge. Dan mengakhirkan dimaksudkan karena mereka memandang bahwa perbuatan atau amal sebagai hal yang nomer dua bukan yang pertama. Selanjutkan kata menagguhkan, dimaksudkan karena mereka mengguhkan keputusan hokum bagi orang-orang yangmelakukan dosa besar dihadapan Tuhan.

Sebagai aliran teologi, kaum murji’ah ini mempunyai pendapat tentang akidah yang secara umum dapat digolongkan kedalam pendapat yang moderat atau ekstrim.

Murji’ah yang moderat berpendapat bahwa orang melakukan dosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka, tetapi ia akan dihukum dalam neraka sesuai dengan besarnya dosa yang ia lakukan, dan ada kemungkinan tuhan akan mengampuninya, sehingga mereka tidak akan masuk neraka sama sekali.

Adapun golongan murji’ah ekstrim tokohnya adalah jahm bin safwan dan pengikutnya disebut al-Jahmiah. Golongan ini berpendapat bahwa orang islam yang percaya pada Tuhan, kemudian menyatakan kekufuran secara lisan, tidaklah menjadi kafir, karena kafir dan iman tempatnya bukan dalam bagian tubuh manusia tetapi dalam hati sanubari. Lebih lanjut mereka mengatakan orang yang telah menyatakan iman, meskipun menyembah berhala, melaksanakan ajaran agama yahudi atau Kristen dengan menyembah salib, menyatakan percaya pada trinitas kemudian mati, tidaklah menjadi kafir, melainkan tetap mukmindalam pandangan Allah. (Abd al-Karim Ibn al-Tahir Ibnu Muhammad al-Bagdady, al-Farq Baina Firaq, Muhammad Ali Shihab wa Auladuhu,tt. Hlm. 203). Pandangan serupa ini muncul dari prinsip yang mereka anut yaitu bahwa iman tempatnya di hati, ia tidak bertambah dan tidak berkurang karena perbuatan apapun dan amal tidak punya pengaruh apa-apa terhadapiaman.

Daftar pustaka

Drs. Abuddin Nata, M.A, Ilmu Kalam, Filsafat, dan Tsawwuf (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1998 hlm. 33-36)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: