Beranda > Tarikh Tasyri' > PENGERTIAN DAN PENDAPAT NAHDATUL ULAMA’ TENTANG TALFIQ

PENGERTIAN DAN PENDAPAT NAHDATUL ULAMA’ TENTANG TALFIQ

Talfiq adalah beramal dalam suatu masalah menurut hukum yang merupakan gabungan dari dua madzhab atau lebih.

menurut penelitian nahdatul ulma’ dalam masalah ini mengambil jalan tengah, yaitu dalam bermadzhab tidaklah menjadi keharusan bagi seseorang untuk tetap hanya mengikuti pendapat madzhab tertentu saja. dia boleh mengikuti pendapat madzhab lai,n, jika memang terdapat alasan kuat untuk itu (bukan sekedar coba-coba atau menurut hawa nafsu), seperti adanya situasi darurat, atau ketidak sanggupan melakukan seperti fatwa madzhabnya dan lain sebagainya. seperti orang dalam masalah ibadah mengikuti madzhab syafi’i, tetapi dalam masalah mu’ammalah dia mengikuti madzhab Hanafi atau maliki.

jalan tengah yang ditempuh nahdatul ulama’ tersebut sangat relevan dengan tuntutan zaman terutama dalam masalah-masalah kemasyarakatan seperti pernah terjadi:

1. ru’yat yang mu’tabar disuatu tempat. Qodli syafi’i menetapkan bahwa ru’yat tersebut berlaku diseluruh wilayah kekuasaannya, padahal mathla’nya berlainan sebab, qodli tersebut berpegang teguh pada madzhab maliki dan hanbali yang tidak memandang persoalan mathla’nya.

2. membuat undang-undang perkawinan yang isinya : akad nikah harus dengan wali dan saksi (mengikuti madzhab syafi’i), talak menjadi sah, bila ada saksi (mengikuti madzhab imamiah) dan rujuk (langsung bersetubuh) itu syah (mengikuti madzhab Hanafi). (sumber PENDIDIKAN ASWAJA/KE-NU-AN Diterbitkan oleh lembaga pendidikan Maarif Nu wilayah Jawa timur, 1996. halaman 55-57)

adapun menurut pendapat yang lain sebab diperbolehkannya talfiq adalah sebagai berikut :

1. Tidak adanya nash di dalam Al-Quran atau pun As-Sunnah yang melarang talfiq ini. Setiap orang berhak untuk berijtihad dan tiap orang berhak untuk bertaqlid kepada ahli ijtihad. Dan tidak ada larangan bila kita sudah bertaqlid kepada satu pendapat dari ahli ijtihad untuk bertaqlid juga kepada ijtihad orang lain.

2. Alasan ini semakin menguatkan pendapat bahwa talfiq itu boleh dilakukan. Karena yang membolehkannya justru nabi Muhammad SAW sendiri secara langsung. Maka kalau nabi saja membolehkan, lalu mengapa harus ada larangan?

Nabi SAW lewat Aisyah disebutkan:

Nabi tidak pernah diberi dua pilihan, kecuali beliau memilih yang paling mudah, selama hal tersebut bukan berupa dosa. Jika hal tersebut adalah dosa, maka beliau adalah orang yang paling menjauhi hal tersebut “. (Fathu al-Bari, X, 524)

3. Melakukan talfiq adalah hal yang termudah saat ini, ketimbang harus selalu berpedang kepada satu mazhab saja. Mengingat hari ini tidak ada guru atau ustadz yang mengajar fiqih di bawah satu mazhab saja dalam segala sesuatunya. (Sumber : http://www.ustsarwat.com/web/ust.php?id=1180348272)

disini penulis sependapat tentang diperbolehkannya talfiq sebab dalam hal-hal yang sifatnya darurat contohnya kita sedang berhaji, sangat sulit menerapkan madzhab syafii terkait dengan batalnya wudlu sebab bersentuhan laki-laki dan perempuan. agama islam adalah agama yang memudahkan bagi para umatnya seperti banyaknya rukhsoh (keringanan) apa bila sesorang kesulitan melakukan pekerjaan itu. seperti rukhsoh ketika kita bepergian, adanya halangan menggunakan air dll.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: