Beranda > campuran > Pandangan Agama Budha Tentang Perkawinan dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Pandangan Agama Budha Tentang Perkawinan dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Kajian Agama Buddha:

disusun oleh: Like Rahma Dianita Pancarsari

Dalam pandangan Agama Buddha, perkawinan adalah suatu pilihan dan bukan kewajiban. Artinya, seseorang dalam menjalani kehidupan ini boleh memilih hidup berumah tangga ataupun hidup sendiri. Hidup sendiri dapat menjadi pertapa di vihara – sebagai Bhikkhu, samanera, anagarini, silacarini – ataupun tinggal di rumah sebagai anggota masyarakat biasa.
Sesungguhnya dalam Agama Buddha, hidup berumah tangga ataupun tidak adalah sama saja. Masalah terpenting di sini adalah kualitas kehidupannya. Apabila seseorang berniat berumah tangga, maka hendaknya ia konsekuen dan setia dengan pilihannya, melaksanakan segala tugas dan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Orang yang demikian ini sesungguhnya adalah seperti seorang pertapa tetapi hidup dalam rumah tangga. Sikap ini pula yang dipuji oleh Sang Buddha.
Dikatakan setelah meninggal maka seseorang akan segera terlahir kembali pada salah satu alam kehidupan yang baru. process kelahiran kembali perlu dipahami bahwa yang terlahir kembali sebetulnya adalah kesadaran sebagai pelopor berserta ketiga faktor batinlah yang terlahir kembali (ketiga faktor batin = pikiran, perasaan dan ingatan) penampakan (bentuk pikiran) pada saat menjelang kematian sangatlah menpengaruhi kehidupan berikutnya. misalnya ketika seseorang melihat binatang, dia akan terlahir kembali ke alam binatang. ketika seseorang melihat dewa, maka dia akan terlahir kembali disurga. ketika memikirkan sesuatu atau orang2 yang ditinggalkan, bisa terlahir kembali di salah satu alam tidak bahagia (karena kehawatiran). melanjutkan keterangan diatas, maka terlahir kembali ke alam berikutnya tentu sangat tergantung dengan perbuatan kita, dan terlahir pada alam alam kehidupan tsb adalah tidak kekal. biasanya umur kehidupan pada alam yang lebih rendah adalah lebih singkat, karena itu biasanya kita mengatakan singgah kalau kita berada pada suatu tempat yang agak singkat. bisa saja kita terlahir jadi nyamuk atau kutu dan hanya hidup beberapa hari, jadi alam binatang adalah alam tunggu kita untuk kelahiran ketempat yang lebih lama netapnya. bisa saja seseorang tsb tadi ada alam dewa (yang berkalpa2) dan sekarang terlahir jadi manusia. kalau begitu alam manusia bagi dia adalah ruang tunggu untuk kembali ke alam dewa lagi. semua yang terjadi pada kita adalah pilihan kita. di dalam Buddhism segala sesuatu yang terjadi saling berhubungan dan menpunyai sebab dan menghasilkan akibat. karena suatu sebab, maka timbulah akibat. karena kita telah bertumimbal lahir terus dan banyak sekali, maka sebabnya menjadi sangat kompleks dan tidak dapat/sulit disadari lagi, sehingga juga akan timbul akibat2 yang kompleks (tentu diawali oleh “sebab” tindakan kita) kita telah menentukan pilihan kita lewat“sebab-sebab” tsb. untuk dapat memenuhi pilihan kita (misalnya terlahir di surga), maka kita haruslah memulai menciptakan “sebab-sebab” yang dapat membawa kita kesana.
Ketika banyak agama merasa terancam dengan pemikiran modern dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, agama Buddha justru sebaliknya mendapatkan tempat untuk berjalan beriringan. Ketika banyak agama menolak teori evolusi, perkembangan bioteknologi, maupun teori tanpa batas tepi (teori kosmologi mengenai ketiadaan awal maupun akhir dari alam semesta oleh Stephen Hawking), agama Buddha sebaliknya tidak langsung menolak hal-hal tersebut. Bagi ajaran Buddha, perkembangan tekonologi bagaikan pisau yang di satu sisi dapat dimanfaatkan untuk memotong di dapur, namun di sisi lain dapat dipakai untuk menusuk orang lain. Jadi, alih-alih ajaran Buddha menolak pisau tersebut, melainkan alasan penggunaan pisau tersebut yang ditolak oleh Beliau ketika dipakai untuk melukai.
Kesimpulan-nya di dalam ajaran Agama Buddha itu sendiri tidak ditolak adanya bayi tabung. Bahkan kloning pun juga tidak di tolak. Jadi, dilain kata dapat dikatakan bahwa bayi tabung atau inseminasi buatan di dalam agama ini diperbolehkan.

  1. Abd Azis
    Desember 21, 2011 pukul 1:20 pm

    sperma dan ovum yg digunakan dlm proses bayi tabung tersebut harus dari suami-istri atau bebas. Tulisan saudara dpt dipahami tidak harus suami-istri

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: