Beranda > campuran > Beberapa Nikah Yang dilarang oleh Syara’

Beberapa Nikah Yang dilarang oleh Syara’

1. nikah pertukaran (sigar)

para ulama fikih sepakat bahwa nikah pertukaran (sigar) ialah apabila seorang leleki menikahkan seorang perempuan dibawah kekuasaannya dengan lelaki lain, dengan syarat bahwa lelaki ini juga harus menikahkan perempuan dibawah kekuasaannya dengan lelaki pertama tanpa adanya mahar pada kedua pernikahan, kecuali jika alat kelamin perempuan itu menjadi imbangan bagi alat kelamin lainnya.

hukum nikah semacam ini menurut kesepakatan para ulama’  haram tetapi, mereka berselisih paham apabila terjadi pernikahan semacam itu, apakah dapat disahkan dengan memberikan mahar misil atau tidak?

imam malik berpendapat bahwa, pernikahan semacam itu tidak dapat disahkan, dan selamanya harus difasakh (dibatalkan), baik sesudah atau sebelum terjadi pergaulan (hubungan kelamin). pendapat ini juga dikemukakan oleh imam syafi’i hanya saja ia berpendapat bahwa jika untuk salah satu pengantin atau keduanya bersama disebutkan suatu mahar, maka pernikahan menjadi sah dengan mahar misil, sedangkan mahar yang telah disebutkan menjadi rusak.

imam Abu hanifah berpendapat bahwa nikah sigar itu sah dengan memberikan mahar misl. pendapat ini juga dikemukakan oleh Al-Lais, Ahmad, Ishak, Abu Saur, Ath-Thabari.

2. Nikah Mut’ah

nikah mut’ah merupakan nikah yang dilakukan dalam waktu tertentu atau bersifat sementara. tentang larangan nikah mut’ah sebenarnya bersifat mutawatir, tetapi masih diperselisihkan tentang waktu terjadinya larangan tersebut.

Riwayat pertama menyebutkan bahwa Rasulullah malarangnya ketika terjadi perang khaibar. kedua, menyebutkan pada tahun kemenangannya (amul fathi). ketiga, menyebutkan pada tahun  dilaksanakannya haji wada’. kekempat, mengatakan pada tahun dilaksanakannya umrah qada, sedangkan kelima, menyebutkan ketika terjadi perang autas.

3. nikah muhalil

yang dimaksud dengan nikah muhalil ini adalah nikah untuk menghalalkan seorang mantan istri yang telah ditalak tiga kali.

dalam hal nikah muhalil ini, imam malik berpendapat bahwa niakh tersebut dapat di fasakh, sedangkan imim abu hanifah berpendapat bahwa nikah muhalil itu adalah sah. perbedaan pandapat ini disebabkan perbedaan pandangan mereka dalam memahami pengertian (mafhum) dari sabda Rasul SAW bahwa, “Allah mengutuk orang yang nikah muhalil”.

Bagi fuqaha yang memahami kutukan tersebut hanyalah dosa semata, mereka berpendapat bahwa nikah muhalil itu sah. akan tetapi, bagi fuqaha yang memahami tentang kutukan itu sebagai rusaknya nikah, karenakan disamakan dengan larangan yang menunjukkan rusaknya perbuatan yang dilarang, maka mereka mengatakan bahwa nikah muhalil itu tidak sah.

sumber Buku paket materi PAI disusun oleh Erwin Yudi Prahara M.Ag STAIN Ponorogo 2008, hlm 205-206

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: