Beranda > fiqh 2 > Ayat Al-Qur’an Surat Al-Maidah Ayat 58 Tentang Adzan

Ayat Al-Qur’an Surat Al-Maidah Ayat 58 Tentang Adzan

Ayat Al-Qur’an Surat Al-Maidah Ayat 58 Tentang Adzan

Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal“.

Penjelasan : jika Muadzin mengumandangkan adzan dan orang-orang yahudi mentertawakan dan menjadikan senda gurau waktu orang-orang muslim rukuk dan sujud pada waktu sholat. Orang-orang yahudi berkata: benar-benar orang muslim memulai sesuatu yang tidak pernah mereka dengar dari umat sebelum islam. Yahudi berkata lagi dari manakah suara yang seperti jeritan unta? Apakah ada suara yang lebih jelek dari itu. Begitulah sifat orang yahudi menjadikan adzan sebagai senda gurau dan permainan hal itu di sebabkan karena mereka adalah kaum yang tidak berfikir.

Sejarah/Asal-Mula Adzan

Ulama’-ulama’ berkata belum ada adzan di Mekah sebelum hijrah Nabi. Biasanya mereka hanya mengumandangkan “Assolatul Jami’ah”.  Ketika Nabi telah hijrah kemadinah dan merubah arah kiblat ke Ka’bah Nabi menyuruh untuk berdzan. Tapi “Assolatul Jami’ah”tetap digunakan. Nabi Muhammad Saw. Baru menetapkan untuk menyuruh adzan ketika Abdullaah bin Zaid, umr bin khotob, dan abu bakar, mengusulkan menggunakan adzan untuk mengumpulkan orang-orang untuk mengerjakan sholat. Tapi ada juga yang berpendapat bahwa nabi mendengar adzan pada saat nabi melakukan isro’ mi’roj dilangit. Tapi menurut pendapat yang masyhur adzan merupakan ide dari Abdullah bin zaid dan umar bin khotob, hadist dari abdulloh bin zaid:

suatu hari Abdullah bin Zaid berkeliling kemudian ¾dia tertidur¾  kemudian ada seorang laki-laki datang kepada Abdullah bin zaid dan laki-laki itu berkata “Allahuakbar  Allahuakbar” dan  menuturkan adzan dengan 4 takbir (Tanpa diulang-ulang), dan iqomat satu-satu kecuali “qodkomatissolah”. Setelah shubuh Abdullah bin Zaid datang kepada Rosullullah lalu lalu Rosulullah  membenarkan mimpi tersebut.

Pendapat Ulama’ tentang adzan

ulama’ berbeda pendapat tentang wajibnya adzan dan iqomah. Menurut Imam Malik dan pengikutnya adzan itu wajib dikumandangkan dimasjid untuk mendirikn sholat berjamaah agar orang-orang berkumpul. Dan pengikut Imam Malik berbeda pendapat juga tentang wajibnya adzan menjadi dua pendapat: pendapat pertama sunnah muakkad dan diwajibkan bagi orang yang banyak. Pendapat kedua fardhu kifayah dikota maupun di desa.

Begitu juga dengan Imam Syafii dan pengikutnya saling berbeda pendapat tentang wajibnya adzan dan iqomah. Thobari menceritkan dari Malik: jika penduduk sengaja meninggalkan adzan maka maka sholatnya harus diulang. Abu Umar berkata: dan tidak diketahui perbedaan tentang wajibnya adzan oleh sebagian penduduk, karena adzan adalah tanda yang membedakan antara umat islam dan umat kafir.

Imam Malik dan Imam Syafii bersepakat bahwa adzan dua-dua (diulang-ulang) dan iqomah satu-satu. Tetapi imam syafii pada takbir yang pertama empat kali (menurut riwayat hadist yang tsiqoh dari hadist Abi Mahdzuroh). Imam Syafii dan Imam Malik bersepakat pula tentang diulngnya adzan, seperti diulangnya pada: “Ashdu Anla Ilahailallah” dua kali, dan “Ashadu Anna Muhammadarrosullah” dua kli juga. Dan tidak ada perbedaan dalam iqomah keculi pada saat “Qodqomtissholah”, Imam Malik berpendapat hanya satu kali sedangkan Imam Syafii dua kali dan kebanyakan ulama’ mengikuti pendapat Imam Syafii. Sedangkan menurut Imam Hanafi dan Atssauri adzan dan iqomah semuanya dua-dua, dan takbir pada awal adzan dan iqomah empat kali. Menurut hadist yang diriwayatkan oleh Abdurrohman Bin Abi Lail.

Ulama’-ulma’ berbeda pendapat pula tentang penyebutan “Assolatu khoirun minannaum”. Menurut Imam Malik, Atssauri, dan allaitsu:  seorang mudzin harus mengucapkan setelah “Hayyaalassolah” dua kali, muadzin mengucapkan assolatu khoirun minannaum, pendapat itu sama dengn pendapat imam syafii di irak, dan sewaktu Imam Syfii di Mesir tidak berpendapat demikian. Menurut Imam Hanafi dan pengikutnya: bahwa diucapkan setelah adzan pun tidak masalah.

Di dalam Muwattok Imam Malik: suatu ketika muadzin datang dimasjid dan  Umar bin Khotob ada disitu, muadzin beradzan untuk sholat subuh dan menemui bahwa Umar sedang tidur maka muadzin mengucapkan “Assolatu Khoirun Minannaun” setelah itu Umar menyuruh menjadikan lafadz itu dimasukkan kedalam adzan.

Sumber: dari tafsir Al-Qurtubi surat Al-Maidah ayat 58 hal 2221

Al Jumhurul Arabiyyatu Al-Muttahidatu Wazarotus Tsiqofatu

Al Qohiroh 1387 H 1967 M

  1. Desember 1, 2011 pukul 4:41 pm

    makasih atas ilmunya,smoga bermanfaat

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: