Beranda > Makalah > TEORI BELAJAR KOGNITIF DAN ASPEK PERKEMBANGAN KOGNITIF MENURUT PIAGET

TEORI BELAJAR KOGNITIF DAN ASPEK PERKEMBANGAN KOGNITIF MENURUT PIAGET

TEORI BELAJAR KOGNITIF

Makalah  ini diajukan  untuk memenuhi tugas mata kuliah

(Ilmu Jiwa Belajar PAI)

Disusun oleh :

MUH. MUHSIN

MUH. ROMDONI

Dosen Pengampu:

Lia Amalia, M.Hum.

 

JURUSAN TARBIYAH PAI

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

( S T A I N ) PONOROGO

2 0 0 9

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Belajar bukan hanya menghafal dan bukan pula mengingat. belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri siswa. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah laku keterampilan, kecakapannya, kemampuannya, daya reaksinya, dan daya penerimaannya. Jadi belajar adalah sebuah proses yang aktif, proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada pada siswa. Belajar merupakan suatu proses diarahkan kepada tujuan, proses berbuat melalui situasi yang ada pada siswa. Kemudian makalah ini akan sedikit membahas tentang teori belajar kognitif.

 

  1. Rumusan Masalah
  • Teori Belajar Kognitif

 


BAB II

PEMBAHASAN

TEORI BELAJAR KOGNITIF

Belajar kognitif ciri khasnya terletak dalam belajar memperoleh dan mempergunakan bentuk-bentuk representatif yang mewakili semua obyek yang dihadapi, entah obyek itu orang, benda atau kejadian/peristiwa. Segala obyek itu di representasikan atau di hadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan atau lambang, yang semuanya merupakan sesuatu yang bersifat mental. Misalnya, seseorang menceritakan pengalamannya selama mengadakan perjalanan keluar negeri, setelah kembali ke negerinya sendiri. Tempat-tempat yang dikunjuginya selama berada di lain negara tidak dapat dibawa pulang, orangnya sendiri juga tidak hadir di tempat-tempat itu pada waktu sedang bercerita. Tetapi, semua pengalamannya tercatat dalam benaknya dalam bentuk berbagai gagasan dan sejumlah tanggapan. Gagasan dan tanggapan itu di tuangkan dalam kata-kata yang disampaikan kepada orang yang mendengarkan ceritanya. Dengan demikian, hal-hal yang tidak hadir secara fisik pada saat sekarang, dapat menjadi bahan komunikasi antara dua orang; segala macam hal seolah-olah dipegang, disentuh dan dipermainkan secara mental. Karena kemampuan kognitif ini, manusia dapat menghadirkan realitas dunia di dalam dirinya sendiri.

Disamping itu, semakin besar kemampuan berbahasa untuk mengungkapkan gagasan dan tanggapan itu, semakin meningkatlah kemahiran untuk menggunakan kemampuan kognitif secara efisien dan efektif. Kemapuan berbahasa pun harus dikembangan melalui belajar. Pembahasan tentang belajar kognitif di sini, akan dibatasi pada dua aktifitas kognitif yaitu mengingat dan berpikir.

  1. Mengingat adalah suatu aktifitas kognitif, di mana orang menyadari bahwa pengetahuannya berasal dari masa lampau atau berdasarkan kesan-kesan yang diperoleh di masa lampau.
  2. Dalam aktivitas mental berpikir paling menjadi  jelas, bahwa manusia berhadapan dengan obyek-obyek yang diwakili dalam kesadaran. Jadi, orang tidak langsung menghadapi obyek secara fisik seperti terjadi dalam mengamati sesuatu bila melihat, mendengar atau meraba-raba.[1]

Semakin bertambah dewasa kemampuan kognitif seseorang, maka semakin bebas seseorang memberikan respon terhadap stimulus yang dihadapi. Perkembangan itu banyak tergantung kepada peristiwa internalisasi seseorang ke dalam sistem penyimpanan yang sesuai dengan aspek-aspek lingkungan sebagai masukan.

            Teori belajar kognitif ini memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik, karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauh mana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan.

            Peranan guru menurut teori belajar kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. Jika potensi yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah, maka peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas.

            Pengetahuan tentang kognitif peserta didik perlu dikaji secara mendalam oleh para calon guru dan para guru demi untuk menyukseskan proses pembelajaran di kelas. Tanpa pengetahuan tentang kognitif peserta didik guru akan mengalami kesulitan dalam membelajarkan peserta didik di kelas yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di kelas melalui proses belajar mengajar antara guru dengan peserta didik.[2]

Menurut Piaget, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.

Menurut Piaget aspek perkembangan kognitif meliputi empat tahap, yaitu:

(1)   Sensory-motor (sensori-motor)

Selama perkembangan dalam periode ini berlangsung sejak anak lahir sampai usia 2 tahun, intelegensi yang dimiliki anak tersebut masih berbentuk primitif dalam arti masih didasarkan pada perilaku terbuka. Meskipun primitif dan terkesan tidak penting, intelegensi sensori-motor sesungguhnya merupakan intelegensi dasar yang amat berarti karena ia menjadi pondasi untuk tipe-tipe intelegensi tertentu yang akan dimiliki anak tersebut kelak.

(2)    Pre operational (praoperasional)

Perkembangan ini bermula pada saat anak berumur 2-7 tahun dan telah  memiliki penguasaan sempurna mengenai objek permanence, artinya anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang ada atau biasa ada, walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat dan tak didengar lagi. Jadi, padangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dari pandangan pada periode sensori-motor, yakni tidak lagi bergantung pada pengamatan belaka.

(3)   Concrete operational (konkret-operasional)

Dalam periode konkret operasional ini belangsung hingga usia menjelang remaja, kemudian anak mulai memperoleh tamnbahan kemampuan yang disebut sistem of operations (satuan langkah berfikir). Kemampuan ini berfaedah bagi anak untuk mengkoordinasikan pemmikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu dalam sistem pemikirannya sendiri.

(4)    Formal operational (formal-operasional)

Dalamperkembngan formal operasional, anak yang sudah menjelang atau sudah menginjak masa remaja, yakni usia 11-15 tahun, akan daapat mengatasi masalah keterbatasan pemikiran. Dalam pperkembangan kognitif akhir ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan (serentak) maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif, yakni: a. kapasitas menggunakan hipotesis, b. kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak

Dalam dua macam kemampuan kognitif yang sangat berpengaruh terhadap kualiatas skema kognitif itu tentu telah dimiliki oleh orang-orang dewasa. Oleh karenanya, seorang remaja pelajar yang telah berhasil menempuh proses perkembangan formal operasional secara kognitif dapat dianggap telah mulai dewasa[3].

  

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

  1. Belajar kognitif ciri khasnya terletak dalam belajar memperoleh dan mempergunakan bentuk-bentuk representatif yang mewakili semua obyek yang dihadapi, entah obyek itu orang, benda atau kejadian/peristiwa.
  2. Teori belajar kognitif dibatasi pada dua aktifitas kognitif yaitu mengingat dan berpikir.
  3. Piaget membagi aspek perkembangan kognitif meliputi empat tahap, yaitu:
    1. Sensory-motor (sensori-motor)
    2. Pre operational (praoperasional)
    3. Concrete operational (konkret-operasional)
    4. d.      Formal operational (formal-operasional)

REFERENSI

 

 

Winkel, Psikologi Pengajaran, Yogyakarta : Media Abadi, 2004

            Hadis, Abdul,  Psikologi dalam Pendidikan, Bandung : Alfabeta, 2006

Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003


[1] W S. Winkel, Psikologi Pengajaran, (Yogyakarta : Media Abadi, 2004), 72.

[2] Abdul Hadis, Psikologi dalam Pendidikan, (Bandung : Alfabeta, 2006), 70.

[3] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003), 26.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: